Gastra Admin

DTCnrVzHroR4IuOS6KlG 1688556491 1200x500

Teknik Pengelasan di Galangan Kapal: Jenis, Peralatan, dan Standar Keselamatan

Pengelasan merupakan salah satu proses paling kritis dalam konstruksi dan perbaikan kapal. Di galangan kapal, kualitas pengelasan tidak hanya memengaruhi kekuatan struktur lambung kapal tetapi juga keselamatan operasional jangka panjang. Artikel ini akan membahas secara mendalam jenis-jenis teknik pengelasan yang umum digunakan di galangan kapal, peralatan penting yang digunakan, serta standar dan aspek keselamatan yang wajib dipenuhi.

Jenis-Jenis Teknik Pengelasan yang Digunakan di Galangan Kapal

Beberapa teknik pengelasan utama yang banyak diterapkan dalam konstruksi kapal antara lain:

  • Shielded Metal Arc Welding (SMAW) / elektroda terkotak: Teknik klasik yang banyak digunakan untuk pengelasan lapisan tebal, posisi sulit dan saat kerja di luar ruangan.
  • Gas Metal Arc Welding (GMAW/MIG): Menggunakan kawat elektroda yang diumpankan otomatis serta gas pelindung, cocok untuk produksi massal bagian hull atau blok kapal.
  • Flux-Cored Arc Welding (FCAW): Mirip GMAW tetapi kawat berinti flux dan bisa digunakan di lingkungan outdoor yang berangin—sering dipakai di galangan lepas pantai atau kondisi sulit.
  • Submerged Arc Welding (SAW): Digunakan untuk sambungan tebal di kapal besar; arc tertutup oleh flux sehingga penetrasi kuat dan hasil bersih.
  • Friction Stir Welding (FSW): Teknologi lebih modern terutama untuk aluminium atau panel dengan mula pengelasan minimal distorsi, meskipun belum seumum teknik arc untuk kapal baja.

Setiap teknik memiliki kelebihan dan tantangan tersendiri. Misalnya, SMAW fleksibel tapi produktivitasnya lebih rendah; GMAW/FCAW lebih cepat tapi memerlukan kondisi lebih terkendali; SAW untuk tebal besar tetapi peralatan dan persiapan lebih kompleks.

Peralatan Penting dalam Pengelasan Kapal

Untuk mendukung proses pengelasan yang aman dan berkualitas, beberapa peralatan berikut wajib ada di galangan kapal:

  • Sumber listrik dan power supply (AC/DC) dengan kapasitas sesuai elektroda dan arus pengelasan yang diperlukan.
  • Mesin pengumpan kawat / feeder untuk GMAW / FCAW, serta sistem kawat elektroda dan kereta pengelasan otomatis untuk SAW.
  • Perlengkapan keamanan seperti helm pengelasan (auto-darkening), sarung tangan, pelindung kulit, serta ventilasi yang memadai untuk menghindari inhalasi asap atau debu pengelasan.
  • Posisi pengelasan dan fixture: Karena bagian kapal sering besar dan sulit diakses, diperlukan fixture pengelasan, jigs dan crane bantu agar posisi pengelasan stabil dan aman.
  • Peralatan NDT (Non-Destructive Testing): Untuk kontrol kualitas sambungan las—ultrasonic, radiographic, dye-penetrant—serta peralatan pengukuran dimensi sambungan serta dokumentasi hasil pekerjaan.

Standar & Prosedur Kualitas serta Kualifikasi Pengelas

Untuk memastikan kualitas pengelasan dan keselamatan struktur kapal, galangan harus mematuhi beberapa standar berikut:

  • Setiap pengelas (welder) harus memiliki sertifikasi yang diakui dan mengikuti prosedur pengelasan (Welding Procedure Specification / WPS) yang disetujui.
  • Prosedur pengelasan harus dikualifikasi (WPS qualification record) dan dokumen tersebut harus disimpan sebagai bukti.
  • Untuk struktur lambung kapal, standart seperti “Shipbuilding and Repair Quality Standard for Hull Structures” mensyaratkan persyaratan spesifik untuk pos pengelasan, persiapan tepi (edge preparation), pengecekan sambungan las dan toleransi bentuk.
  • Pengelasan harus dilakukan di area terlindung dari hujan, angin kencang atau kondisi cuaca ekstrem.
  • Pemantauan dan pemeriksaan kualitas sambungan las melalui NDT (ultrasonic, radiography) penting untuk mendeteksi cacat seperti porositas, undercut, incomplete fusion—yang dapat merusak integritas kapal.

Aspek Keselamatan dalam Pengelasan Kapal

Pengelasan di galangan kapal memiliki potensi risiko tinggi: kebakaran, ledakan (terutama untuk kapal minyak/kimia), paparan asap las, dan potensi kerangan sea water atau kelembapan yang mengganggu hasil las. Beberapa aspek keselamatan yang wajib diterapkan:

  • Pastikan area pengelasan bebas dari bahan mudah terbakar, sambungan listrik terlindungi dan grounding baik.
  • Ventilasi dan pengontrol asap harus terpasang—perlindungan dari fume dan gas las penting untuk kesehatan pekerja.
  • Pemakaian hot work permit untuk aktivitas las dan cutting di kapal yang telah difuel atau kontaminasi sebelum pekerjaan dilakukan.
  • Penanganan sambungan las yang masih panas: area harus dibatasi, dan bahan bakar/hidrokarbon harus dikendalikan.
  • Pelatihan untuk pengelas dan supervisor mengenai distortion control, pengaturan sekuen las, dan prosedur darurat.

Praktik Terbaik untuk Kualitas dan Efisiensi Pengelasan Galangan

Untuk mencapai hasil pengelasan yang optimal dan operasional galangan yang efisien:

  • Siapkan pre-heat dan post-heat treatment sesuai jenis material dan grosor pelat untuk menghindari crack dingin atau distorsi.
  • Gunakan teknik pengelasan yang sesuai dengan kondisi: contoh, FCAW untuk outdoor, SAW untuk material tebal di area yang bisa dikontrol.
  • Lakukan pemeriksaan dimensi sambungan secara rutin dan dokumentasikan hasilnya sebagai bagian dari manajemen kualitas.
  • Minimalkan rework dengan mengikuti WPS, melakukan test sample dan pemantauan NDT secara berkala.
  • Terapkan sistem digital welding monitoring dan pencatatan hasil las untuk meningkatkan traceability dan mempercepat inspeksi.

Pengelasan di galangan kapal bukan hanya soal menyambung dua lempengan logam—namun soal memastikan struktur kapal dapat bertahan dalam lingkungan laut yang keras dan tantangan operasional yang berat. Dengan memahami jenis-jenis teknik las, peralatan yang tepat, standar kualitas dan aspek keselamatan, galangan dan operator kapal dapat meningkatkan mutu konstruksi dan perbaikan kapal secara signifikan. Sebagai penyedia layanan servis kapal yang mengerti kompleksitas konstruksi dan pengelasan, PT Gastra Anugerah Sejahtera (GASTRA) siap membantu Anda dengan layanan maintenance, pengelasan dan kontrol kualitas—agar kapal Anda dibangun atau diperbaiki dengan standar tertinggi dan aman untuk beroperasi.

Lampu Sinyal dan Lampu Sorot 1000x477 1

Sistem Penerangan Kapal: Standar Pencahayaan untuk Keselamatan Navigasi

Pencahayaan kapal bukan sekadar urusan kenyamanan atau estetika semata. Untuk kapal yang beroperasi di laut lepas atau dalam pelayaran malam/pada visibilitas rendah, sistem penerangan memainkan peran penting dalam keselamatan navigasi, kelaikan kapal, dan kepatuhan regulasi internasional. Artikel ini mengulas secara mendalam berbagai aspek sistem penerangan di kapal—mulai dari lampu navigasi eksternal hingga pencahayaan internal—berdasarkan standar regulasi seperti International Maritime Organization (IMO) dan kode-kode teknis terkait.

Lampu Navigasi: Komponen Utama Keselamatan di Laut

Lampu navigasi adalah lampu khusus yang dipasang di kapal agar kapal lain dapat mengenali posisi, arah, aktivitas dan status kapal tersebut di malam hari atau kondisi visibilitas rendah. Regula­si utama seperti Convention on the International Regulations for Preventing Collisions at Sea (COLREGs) dan resolusi IMO menetapkan persyaratan tentang jenis, warna, jangkauan dan sudut pencahayaan lampu navigasi.
Contoh persyaratan:

  • Lampu haluan (masthead light) putih untuk kapal yang digerakkan sendiri, dengan jangkauan minimal 6 mil untuk kapal >50 m.
  • Lampu sisi: merah di sisi kiri (port), hijau di sisi kanan (starboard), masing-masing harus terlihat dalam sudut pandang yang spesifik (112,5°) dari dead ahead hingga 22,5° abaft beam.
  • Lampu buritan (stern light) putih, sudut pandang 135° ke belakang kapal.

Resolusi IMO Resolution MSC.253(83) menetapkan standar kinerja lampu navigation, pengontrol dan peralatan terkait untuk kapal yang dipasang sejak 1 Januari 2009

Kesimpulannya, untuk lampu navigasi: pemasangan yang benar, visibilitas yang memadai, dan pemeliharaan berkala adalah kunci untuk keselamatan operasional.

Pencahayaan Internal & Area Kerja Kapal

Selain lampu navigasi eksternal, pencahayaan internal kapal—ruang mesin, ruang kontrol, dek kerja, bridge—juga diatur oleh regulasi dan standar teknis untuk memastikan bahwa kru dapat menjalankan tugasnya dengan aman, terutama pada malam hari atau kondisi darurat.

Sebagai contoh, regulasi ISO/IEC dan dokumen IMO menyebutkan bahwa iluminasi minimum untuk ruang mesin adalah 22 lux untuk area umum, dan hingga 54 lux di area meja kerja.
Poin-pentingnya:

  • Pencahayaan harus cukup untuk aktivitas normal dan kondisi pemeliharaan.
  • Sistem pencahayaan darurat harus tersedia agar tetap menyala bila sumber utama padam.
  • Pencahayaan dek kerja dan gangway harus didesain bebas dari silau yang bisa mengganggu manuver kapal atau keselamatan kru.

Standar Teknis & Kepatuhan

Dalam pemilihan fixture lampu dan peralatan pencahayaan kapal, operator dan manajemen kapal harus memperhatikan sertifikasi dan standar seperti IP66/IP67 (ketahanan terhadap air dan semprotan laut), ABS, UL 1598A untuk aplikasi marine, dan lainnya.

Mengabaikan standar ini bisa menimbulkan sanksi regulasi, penahanan kapal oleh otoritas pelabuhan, atau kecelakaan akibat kegagalan sistem pencahayaan.

Selain lampu navigasi dan internal, manajemen pencahayaan kapal juga harus mengatur lighting pada area kerja pelabuhan, gangway kapal, dan area muat/berangkat agar operasi dapat berjalan lancar dan aman.

Perawatan Sistem Penerangan Kapal: Praktik Terbaik

Agar sistem pencahayaan kapal selalu andal, berikut beberapa langkah praktis:

  • Inspeksi rutin lampu navigasi: pacakan warna, visibilitas, kondisi lensa, koneksi dan kabel.
  • Uji periode visibilitas lampu di malam hari atau kondisi terbatas untuk memastikan jarak pandang sesuai regulasi.
  • Periksa sistem pencahayaan internal dan area kerja: pastikan semua lampu berfungsi, tidak ada flicker, dan cahaya cukup untuk tugas operasional.
  • Ganti lampu/neon/LED sesuai rekomendasi pabrikan; untuk lampu LED, pastikan alarm penurunan intensitas sesuai resolusi MSC.253(83) dipasang.
  • Pastikan sistem darurat pencahayaan tersambung ke sumber cadangan dan secara otomatis aktif saat kehilangan sumber utama.
  • Catat semua pemeliharaan pencahayaan di log perawatan kapal agar audit regulasi dan kejadian darurat dapat ditangani.

Manfaat Utama Penerangan Kapal yang Baik

Sistem penerangan kapal yang sesuai standar dan terpelihara menghasilkan sejumlah keuntungan:

  • Keselamatan navigasi meningkat: Kapal terlihat oleh kapal lain, risiko tabrakan menurun.
  • Kinerja kru optimal: Pencahayaan internal memadai untuk pengoperasian dan pemeliharaan.
  • Kepatuhan regulasi: Memenuhi persyaratan COLREGs, SOLAS dan standar lain — menghindari penahanan kapal.
  • Efisiensi operasional: Lampu yang tepat dan hemat energi (misalnya LED) mengurangi beban listrik kapal.

Sistem penerangan kapal adalah salah satu aspek keselamatan yang sering terlupakan tetapi berpotensi besar dampaknya — dari lampu navigasi yang memperjelas posisi kapal hingga cahaya kerja yang memungkinkan kru bertugas aman petang malam. Dengan standar yang benar, pemasangan yang tepat dan pemeliharaan konsisten, armada Anda akan lebih siap menghadapi malam, kabut atau pelayaran visibilitas rendah. Sebagai perusahaan servis kapal yang memahami kompleksitas sistem kelistrikan dan penerangan kapal, PT Gastra Anugerah Sejahtera (GASTRA) siap menjadi mitra Anda dalam memastikan sistem pencahayaan kapal Anda selalu sesuai standar, andal dan aman digunakan.

Jual sewa kapal tugboat 9 1200x500

Tugboat dan Barge: Fungsi, Desain, dan Perawatannya di Industri Pelabuhan

Dalam industri pelabuhan dan perairan, kombinasi tugboat dan barge memainkan peran kunci dalam mendukung kelancaran rantai logistik laut. Tugboat bertugas manuver, asistensi dan penundaan kapal besar, sementara barge digunakan sebagai alat angkut besar dengan kemampuan fleksibel untuk menampung muatan berat atau melayani operasi “flat-deck”. Memahami fungsi, desain serta strategi perawatan kedua jenis kapal ini menjadi penting bagi pelaku industri maritim, galangan kapal, dan perusahaan pelayaran.

Fungsi Utama Tugboat

Tugboat adalah kapal kecil namun sangat kuat dan gesit yang membantu kapal besar dalam manuver di pelabuhan, kanal, atau dalam kondisi terbatas. Beberapa fungsi utamanya:

  • Membantu berthing dan unberthing kapal besar—karena kapal besar memiliki manuver terbatas di area sempit.
  • Menarik atau mendorong barge atau kapal saat kondisi laut atau arus kuat, sebagai bagian dari layanan towing dan pekerjaan penundaan.
  • Beberapa tugboat dilengkapi sistem tambahan seperti pemadam kebakaran atau operasi darurat di pelabuhan

Fungsi Utama Barge

Barge adalah kapal jenis datar atau semi-struktur besar yang difungsikan sebagai kontainer muatan besar (baik muatan padat maupun cair) atau sebagai platform kerja di laut/pelabuhan. Fungsi barge antara lain:

  • Mengangkut muatan besar yang tidak praktis untuk kapal berkecepatan tinggi seperti pipa besar, konstruksi offshore, bahan-lain yang sangat berat.
  • Beroperasi bersama tugboat dalam skema tug-and-barge ataupun articulated tug-barge (ATB) dimana tug dan barge terhubung secara mekanik untuk efisiensi dan performa lebih baik.
  • Dalam pelabuhan atau perairan dangkal, barge bisa menyediakan dukungan logistik, platform kerja atau akses ke area yang kapal laut besar tak bisa masuk.

Desain Konstruksi Tugboat dan Barge

Desain Tugboat

Desain tugboat menekankan kekuatan tarik atau dorong (bollard pull), manuver tinggi, dan hull yang tangguh. Sebagai contoh, desain modern seperti azimuth stern drive (ASD) atau Voith-Schneider memungkinkan manuver 360° yang sangat bermanfaat di pelabuhan.

Material hull biasanya dilapisi pelindung agar tahan tekanan dan benturan saat mendorong kapal lain atau bekerja di kondisi sulit.

Desain Barge

Barge umumnya memiliki lambung luas, deck datar, dan kapasitas muatan besar. Ada berbagai jenis barge: deck barge, hopper barge, liquid mud barge, ocean barge, tergantung keperluan.

Khusus untuk kombinasi tug-and-barge modern (ATB), desain hull dan sambungan mekanik dibuat agar tug dan barge bisa beroperasi hampir seperti satu kapal tunggal, meningkatkan efisiensi bahan bakar dan performa.

Perawatan dan Manajemen Operasional

Agar tugboat dan barge tetap beroperasi secara aman dan efisien, strategi perawatan berikut penting diterapkan:

  • Inspeksi hull dan struktur: Karena tug sering mengalami benturan dan tarikan, sedangkan barge memikul muatan berat dan berada dalam kondisi statis atau slow speed, maka hull, sambungan dan deck harus rutin diperiksa.
  • Sistem propulsi dan mesin: Tug dengan mesin besar dan sistem manuver khusus memerlukan pemeliharaan intensif. Barge meskipun sederhana propulsinya (kadang digerakkan oleh tug), juga memerlukan perawatan sistem pondasi, deck dan muatan.
  • Sambungan tug-barge: Untuk sistem ATB atau sistem towing, sambungan mekanik atau rigging harus diperiksa untuk keausan, korosi, dan integritas.
  • Manajemen muatan dan stabilitas: Barge yang membawa muatan berat harus diatur stabilitasnya dengan benar (trim, ballast) agar aman selama operasi.
  • Cat dan pelindung korosi: Kedua unit berada di lingkungan laut yang korosif. Perlindungan anti-corrosion, cat antifouling di bagian barge jika digunakan di laut terbuka, dan sistem proteksi hull tug harus diperhatikan.

Implikasi untuk Industri Pelabuhan dan Pemilik Armada

Bagi operator pelabuhan dan perusahaan jasa logistik kapal, memahami perbedaan fungsi, desain dan perawatan tugboat dan barge memungkinkan mereka memilih strategi aset yang tepat—baik untuk menarik layanan, memelihara armada sendiri, atau outsourcing.

Galangan kapal yang menangani tug atau barge perlu memperhatikan spesifikasi desain yang sangat berbeda antara kedua jenis unit ini dan menyediakan layanan yang sesuai.

Tugboat dan barge adalah dua komponen yang saling melengkapi dalam industri pelabuhan dan transportasi laut—dengan desain, fungsi dan tantangan pemeliharaan yang spesifik masing-masing. Pemahaman menyeluruh terhadap aspek ini akan memastikan operasional yang aman, efisien dan berkelanjutan. Sebagai mitra servis kapal yang berpengalaman dalam perawatan unit-unit tugboat dan barge, PT Gastra Anugerah Sejahtera (GASTRA) siap mendukung armada Anda dengan layanan teknis profesional dan solusi pemeliharaan tepat guna.

IMG 20241210 WA0724 scaled 1 1200x500

Indonesia dan India Perkuat Kerja Sama di Bidang Maritim dan Pertahanan

Kerja sama strategis antara Indonesia dan India semakin ditingkatkan. Kedua negara sepakat mempererat kolaborasi di sektor keamanan kawasan, kemaritiman, serta pengembangan industri pertahanan.

Kesepakatan ini terjalin dalam pertemuan antara Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Chief of Defence Staff (CDS) Indian Armed Forces, General Anil Chauhan, yang berlangsung di Subden Merdeka Barat, Jakarta Pusat, pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Dalam kesempatan tersebut, Jenderal Agus Subiyanto menyampaikan apresiasi atas hubungan yang telah lama terjalin antara kedua negara.

“Indonesia dan India memiliki ikatan sejarah serta budaya yang kuat. Bagi Indonesia, India bukan sekadar sahabat tetapi saudara. Kami berharap hubungan antara kedua angkatan bersenjata terus ditingkatkan di masa depan untuk bersama-sama berkontribusi menciptakan keamanan di kawasan,” ujar Panglima TNI.

Jenderal Agus juga menyoroti kemajuan India dalam teknologi dan inovasi, terutama dalam sistem navigasi dan penentuan posisi berbasis satelit, yang dinilai membuka peluang kolaborasi baru.

Selain itu, ia juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan industri pertahanan maritim India yang menunjukkan perkembangan signifikan.

Pertemuan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat hubungan pertahanan kedua negara. Kerja sama ini dibangun atas dasar persahabatan, saling menghormati, dan semangat kolaborasi yang saling menguntungkan, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.

Dalam pertemuan tersebut, Jenderal Agus didampingi oleh Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Mohamad Tonny Harjono, dan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Muhammad Saleh Mustafa.

Sumber : rmol.id