berita

16 1173x500

Komisi VII DPR Temukan Potensi Besar Industri Galangan Kapal di Makassar, Tekankan Pentingnya Inspeksi Teknis Kapal Bersertifikasi

Komisi VII DPR RI menemukan sejumlah kendala sekaligus potensi besar dalam pengembangan industri galangan kapal di Kawasan Timur Indonesia (KTI), khususnya saat kunjungan kerja spesifik ke fasilitas PT Industri Kapal Indonesia (IKI) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (4/12). Temuan ini sekaligus menegaskan urgensi inspeksi teknis kapal secara profesional dan sesuai standar regulasi nasional serta internasional untuk mendukung keselamatan serta daya saing industri maritim nasional.

Kunjungan tersebut menjadi sorotan penting karena Komisi VII DPR RI yang membidangi penelitian, teknologi, dan industri mengungkapkan bahwa meski potensi industri galangan kapal di wilayah ini sangat besar, optimalisasi pemanfaatannya masih terkendala berbagai aspek termasuk peralatan, perizinan, dan ekosistem industri.

Komisi VII DPR RI, yang dipimpin oleh Wakil Ketua Chusnuniah Chalim, melakukan kunjungan kerja ke PT IKI Makassar untuk meninjau langsung kondisi galangan kapal serta berdialog dengan pihak direksi terkait pengembangan ekosistem industri perkapalan nasional.

Kunjungan berlangsung di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Kamis, 4 Desember 2025, di fasilitas galangan kapal milik PT IKI yang menjadi bagian dari kunjungan kerja dalam rangka percepatan pengembangan industri maritim di Indonesia Timur.

Penguatan Ekosistem Industri Galangan Kapal

Komisi VII DPR RI menekankan perlunya penguatan ekosistem industri galangan kapal di Indonesia — terutama di wilayah Indonesia Timur yang strategis sebagai hub maritim — sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri perkapalan nasional serta memperkuat konektivitas logistik dan mobilitas antarpulau. Antara News Makassar

Dalam penjelasannya, Chusnuniah menyampaikan bahwa optimalisasi fasilitas galangan kapal di KTI saat ini baru mencapai sekitar 60 persen dari kapasitas potensialnya, terutama karena beberapa peralatan yang sudah tua dan memerlukan pembaruan teknologi serta proses perizinan yang masih dianggap kompleks oleh pelaku industri.

Selain melihat kondisi fasilitas secara langsung, Komisi VII DPR RI juga menerima masukan dari asosiasi galangan kapal terkait kebutuhan perbaikan ekosistem industri — mulai dari pembaruan peralatan hingga perluasan pelatihan SDM supaya mampu memenuhi standar operasional yang semakin kompleks. Selain itu, rencana diskusi lebih lanjut dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Riset, Teknologi, serta Pendidikan Tinggi disebut sebagai langkah yang akan diambil untuk meningkatkan dukungan kebijakan.

Inspeksi Teknis Kapal Menjadi Perhatian Khusus

Dalam konteks regulasi, inspeksi teknis kapal menjadi salah satu aspek krusial yang tidak boleh diabaikan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan telah menerbitkan regulasi harmonisasi sistem inspeksi dan sertifikasi kapal berbendera Indonesia, seperti Permenhub No. PM 7 Tahun 2024, untuk meningkatkan keselamatan pelayaran, keamanan kapal, serta upaya perlindungan lingkungan laut. Regulasi ini menekankan perlunya pemeriksaan menyeluruh terhadap aspek keamanan kapal, garis muat, pengelolaan air ballast, serta pencegahan polusi laut sesuai standar International Maritime Organization (IMO).

Badan Klasifikasi Indonesia (BKI) juga berperan penting dalam menerapkan standar internasional seperti International Safety Management (ISM) Code dalam klasifikasi serta sertifikasi kapal di Indonesia. Implementasi ISM Code sendiri bertujuan untuk memastikan manajemen keselamatan kapal berjalan baik dan sesuai dengan konvensi SOLAS (International Convention for the Safety of Life at Sea).

Strategi pemeriksaan dan sertifikasi teknis yang dilakukan oleh tim bersertifikasi sangat menentukan kesiapan kapal dalam menghadapi persyaratan regulasi nasional maupun global. Kapal yang tidak lolos inspeksi dapat mengakibatkan denda, penundaan pelayaran, atau bahkan pembatasan akses ke pelabuhan internasional — hal yang pada gilirannya bisa berdampak negatif terhadap kredibilitas pelaut dan operator kapal.

Membangun Jaringan Transportasi Laut Yang Andal

Indonesia sebagai negara maritim memiliki lebih dari 17 ribu pulau yang membutuhkan jaringan transportasi laut yang andal, aman, dan efisien. Untuk itu, pengembangan industri galangan kapal dalam negeri menjadi bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi nasional. Menurut data industri, Indonesia memiliki sekitar 342 galangan kapal yang tersebar di 29 provinsi, namun hanya sebagian kecil yang terletak di Indonesia Timur. Kesenjangan ini turut memperkuat argumen Komisi VII DPR RI untuk mendorong penambahan galangan kapal di wilayah tersebut agar kebutuhan kapal lokal dapat ditangani secara domestik.

Selain itu, keberadaan tol laut dengan rute yang semakin berkembang juga dipandang sebagai peluang signifikan untuk perawatan, perbaikan, serta inspeksi kapal yang ditangani oleh galangan-galangan nasional.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, layanan inspeksi teknis kapal oleh tim profesional dan bersertifikasi seperti yang tersedia di Gastra menjadi bagian dari solusi penting untuk membantu pelaku industri mematuhi standar keselamatan yang ditetapkan nasional maupun internasional sehingga kapal dapat beroperasi dengan efektif di pasar domestik maupun global.

Dengan pendekatan berbasis regulasi dan kapabilitas teknis, Gastra membantu operator kapal serta pemilik galangan dalam memastikan setiap inspeksi teknis dilaksanakan sesuai standar yang berlaku.

Desain tanpa judul 2 1200x500

Keuntungan Menggunakan Jasa Inspeksi Teknis Kapal oleh Tim Bersertifikasi

Inspeksi teknis kapal merupakan bagian penting dari kegiatan operasional industri maritim. Di tengah semakin ketatnya standar keselamatan dan regulasi internasional, kondisi kapal tidak bisa lagi hanya dinilai berdasarkan visual checking biasa. Operator kapal, pemilik, maupun penyewa (charterer) perlu memastikan bahwa setiap aspek teknis kapal—mulai dari struktur, mesin, sistem kelistrikan, hingga peralatan keselamatan—telah memenuhi persyaratan lembaga klasifikasi dan otoritas pelayaran.

Di sinilah peran tim inspeksi teknis bersertifikasi menjadi sangat krusial. Mereka bukan sekadar teknisi biasa, tetapi tenaga ahli yang memahami standar internasional seperti IMO, SOLAS, MARPOL, ISM Code, dan ketentuan klasifikasi kapal dari badan seperti ABS, BV, DNV, LR, RINA, hingga BKI. Inspeksi yang dilakukan tim bersertifikasi tidak hanya memastikan kapal aman beroperasi, tetapi juga membantu mengurangi risiko kerugian yang bisa muncul dari kerusakan teknis, kecelakaan kerja, ataupun kegagalan audit.

Artikel ini membahas berbagai keuntungan menggunakan jasa inspeksi teknis kapal oleh tim bersertifikasi—mulai dari aspek keselamatan, efisiensi biaya, hingga kepatuhan regulasi.

Akurasi Penilaian Berdasarkan Standar Internasional

Tim inspeksi bersertifikasi bekerja berdasarkan pedoman resmi seperti:

  • SOLAS (Safety of Life at Sea) – standar keselamatan kapal dan perlengkapannya.
  • MARPOL – fokus pada pencegahan pencemaran laut oleh kapal.
  • ISM Code – sistem manajemen keselamatan operasional kapal.
  • IACS Unified Requirements – standar konstruksi dan pemeliharaan kapal dari asosiasi klas internasional.

Dengan memahami standar-standar tersebut secara teknis dan operasional, mereka dapat menilai kondisi kapal dengan tingkat akurasi lebih tinggi dibanding inspeksi non-sertifikasi. Mereka juga mengetahui parameter performa yang harus dipenuhi: stabilitas kapal, kondisi hull, performa mesin utama & generator, hingga integritas sistem keselamatan seperti fire system, navigational equipment, dan emergency power.

Inspeksi mengikuti checklist resmi sehingga kesalahan identifikasi atau laporan yang kurang lengkap dapat diminimalkan. Ini salah satu nilai tambah terbesar yang tidak dimiliki oleh tim non-sertifikasi.

Mengurangi Risiko Downtime dan Kegagalan Operasional

Downtime kapal dapat menyebabkan kerugian finansial yang besar, terutama bagi pemilik atau perusahaan pelayaran yang menjalankan charter-based operation. Inspeksi teknis yang dilakukan dengan benar akan mengidentifikasi potensi masalah sebelum menjadi kerusakan besar.

Contohnya:

  • kebocoran kecil pada sistem bahan bakar (fuel line)
  • keausan pada komponen mesin yang tidak terlihat secara kasat mata
  • penurunan performa generator set
  • kerusakan awal pada sistem hidrolik deck machinery
  • hazard pada sistem kelistrikan akibat koneksi yang longgar

Masalah kecil seperti ini sering tidak terdeteksi tanpa penggunaan alat ukur seperti ultrasonic thickness measurement (UTM), vibration analysis, thermography, atau oil analysis. Tim bersertifikasi dapat memanfaatkan seluruh perangkat tersebut untuk memberikan laporan akurat sehingga kapal terhindar dari perbaikan darurat yang memakan waktu dan biaya besar.

Dengan demikian, inspeksi yang tepat dan komprehensif berkontribusi langsung pada produktivitas dan umur teknis kapal.

Meningkatkan Keselamatan Kru dan Penumpang

Kapal yang tidak terinspeksi dengan benar berpotensi mengalami kecelakaan yang bisa membahayakan nyawa kru dan penumpang. Laporan dari IMO menunjukkan bahwa sebagian besar insiden di laut berasal dari kegagalan teknis yang dapat dicegah melalui inspeksi dan perawatan yang tepat.

Tim bersertifikasi memahami secara detail area risiko tinggi, seperti:

  • sistem pemadam kebakaran (fire detection & suppression)
  • integritas ruang mesin
  • emergency escape lighting & signage
  • stabilitas kapal saat muatan penuh
  • kebocoran pada ruang kargo atau tanki
  • kondisi lifeboat, davit, dan launching appliances

Dengan memastikan seluruh sistem ini tervalidasi sesuai standar, risiko kecelakaan kerja dapat ditekan secara signifikan.

Kepatuhan terhadap Regulasi dan Persyaratan Klasifikasi

Setiap kapal yang beroperasi wajib memenuhi persyaratan klas (class survey) dan port state control (PSC). Kapal yang gagal memenuhi persyaratan ini bisa dikenakan:

  • detensi
  • penalti atau denda
  • pembatalan charter
  • pencabutan sertifikat
  • pembatasan area pelayaran

Inspektor bersertifikasi memahami format dan standar laporan yang diakui lembaga klas dan otoritas pelabuhan. Mereka tahu apa saja area yang sering menjadi temuan PSC—misalnya kondisi fire door, sistem navigasi yang tidak dikalibrasi, kebersihan ruang mesin, kebocoran minyak, hingga amandemen terbaru MARPOL Annex VI terkait emisi.

Dengan laporan yang lebih kredibel, proses audit dan renewal sertifikat dapat berjalan lebih mulus dan cepat.

Efisiensi Biaya Jangka Panjang

Pada awalnya menggunakan jasa inspeksi bersertifikasi mungkin terlihat lebih mahal. Namun dalam jangka panjang, justru biaya tersebut jauh lebih efisien. Karena:

  • kerusakan besar bisa dicegah
  • konsumsi bahan bakar dapat dioptimalkan
  • spare part tidak diganti sebelum waktunya
  • downtime tidak mengganggu kontrak charter
  • jadwal docking bisa direncanakan lebih tepat

Selain itu, laporan inspeksi dapat menjadi dasar negosiasi harga ketika membeli atau menjual kapal (pre-purchase survey), sehingga pemilik kapal bisa membuat keputusan investasi dengan lebih rasional.

Meningkatkan Reputasi Perusahaan Pelayaran

Kapal yang rutin diperiksa oleh tim bersertifikasi cenderung lebih dipercaya oleh charterer, asuransi, dan pihak otoritas. Bagi perusahaan pelayaran, reputasi ini sangat penting untuk mendapatkan kontrak jangka panjang, terutama di sektor minyak, gas, dan logistik yang mensyaratkan tingkat keselamatan tinggi.

Laporan inspeksi bersertifikasi juga menjadi dokumen penting untuk tender, audit klien, dan pemenuhan persyaratan ISO/ISM.

Menggunakan jasa inspeksi teknis kapal oleh tim bersertifikasi menawarkan banyak keuntungan yang tidak bisa diabaikan: penilaian yang lebih akurat, pengurangan downtime, peningkatan keselamatan, kepatuhan regulasi, serta efisiensi biaya jangka panjang.

Dengan regulasi maritim yang terus berkembang dan tuntutan keselamatan yang semakin tinggi, inspeksi teknis bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan utama agar kapal beroperasi secara aman, produktif, dan kompetitif.

PT Gastra Anugerah Sejahtera hadir sebagai mitra yang memahami kebutuhan tersebut. Dengan tenaga ahli bersertifikasi dan pengalaman di industri maritim, Gastra siap membantu memastikan setiap kapal berada dalam kondisi terbaik dan siap menghadapi audit maupun operasional harian.

20240407 034150 1200x500

Sistem Penerangan Kapal: Standar Pencahayaan untuk Keselamatan Navigasi

Ketika malam tiba di laut atau kondisi cuaca memburuk, penerangan kapal menjadi salah satu aspek paling vital untuk menjaga keselamatan navigasi — baik bagi kapal itu sendiri maupun kapal lain di sekitarnya. Sistem penerangan kapal tidak hanya soal “tampak terang”, melainkan mencakup lampu navigasi, lighting untuk operasional mesin dan dek, serta sistem darurat — semua diatur oleh standar internasional yang ketat.

Pemenuhan standar penerangan sangat penting agar kapal patuh regulasi dan aman dari risiko collision, grounding, atau kecelakaan akibat visibilitas buruk. Standar ini diatur oleh regulasi internasional seperti International Maritime Organization (IMO) melalui konvensi SOLAS dan regulasi navigasi COLREGs.

Artikel ini mengulas bagaimana sistem penerangan kapal diatur, apa saja standar pentingnya, dan bagaimana operator kapal dapat memastikan penerangan tetap optimal untuk keselamatan dan efisiensi operasi.

Navigational Lights: Penentu Posisi dan Status Kapal di Laut

Apa itu Navigational Lights

Navigational lights (lampu navigasi) adalah lampu khusus pada kapal yang menunjukkan posisi, arah, dan status kapal — apakah sedang bergerak, berlabuh, menarik/mendorong tongkang, atau dalam kondisi tertentu (misalnya restricted manoeuvrability).

Jenis-jenis lampu navigasi yang umum meliputi:

  • Masthead light (atau lampu tiang/depan)
  • Sidelights (port light / starboard light — merah dan hijau)
  • Stern light (lampu buritan)
  • Anchor light (lampu jangkar / lampu all-round white saat kapal berlabuh)

Standar Internasional: VISIBILITAS & PENEMPATAN

Menurut regulasi dan standar performa untuk navigational lights:

  • Lampu harus steady — tidak berkedip/flashing — kecuali lampu yang memang dirancang demikian.
  • Lensa lampu harus terbuat dari material tahan korosi dan tahan lama agar optik tetap jernih dalam jangka panjang.
  • Untuk kapal dengan panjang ≥ 50 meter, lampu utama seperti masthead, sidelights, dan stern light harus dilengkapi lampu cadangan (duplicate light) agar kalau satu mati masih ada backup.
  • Intensitas dan distribusi cahaya harus memenuhi persyaratan COLREG dan SOLAS agar dari jarak aman (nautical mile) bisa terlihat dan dikenali dengan jelas.

Contohnya: sidelights (merah & hijau) harus terlihat minimal 3 nautical mile, sedangkan masthead untuk kapal besar bisa sampai 6 nautical mile.

Penempatan & Konfigurasi Lampu

Lampu navigasi tidak bisa dipasang sembarangan. Mereka harus ditempatkan supaya tidak terhalang struktur kapal dan tetap terlihat dari sudut pandang yang relevan — misalnya stern light dekat buritan, sidelights di dek atas kiri dan kanan, dan masthead di garis tengah kapal.

Selain lampu navigasi, di kapal besar sering dipasang searchlight, lampu hanker (floodlight) untuk docking atau manuver malam, serta lampu deck yang memenuhi standar daya dan distribusi cahaya agar tidak membingungkan navigasi kapal lain.

Pencahayaan Internal & Operasional: Bridge, Engine Room, Dek, Cargo — Agar Kerja Aman & Efisien

Tidak hanya lampu navigasi, penerangan internal dan operasional juga penting. Setiap area di kapal memiliki kebutuhan cahaya berbeda:

  • Bridge / Navigational station: memerlukan penerangan cukup agar instrumen terlihat jelas tanpa mengganggu night vision — umumnya 100-150 lux.
  • Engine Room: area kerja teknis harus terang agar maintenance, pengecekan, dan operasi dapat dilakukan dengan aman — biasanya 200-300 lux.
  • Cargo hold / deck kerja: pencahayaan 50-100 lux cukup untuk handling kargo, pemeriksaan muatan, atau manuver malam.
  • Accommodation & ruang hidup kru: lampu dengan warna hangat dan kenyamanan visual — antara 100-200 lux — agar kondisi hidup di kapal tetap manusiawi.
  • Lampu darurat & keselamatan: sistem penerangan cadangan yang otomatis aktif saat power gagal — sangat penting untuk evakuasi, navigasi sempit, atau kondisi darurat.

Desain pencahayaan harus memperhatikan efisiensi energi, durabilitas lampu (terutama terhadap korosi, getaran, dan kondisi maritim), serta kemudahan maintenance.

Mengapa Kepatuhan Terhadap Standar Penerangan Itu Penting?

Keselamatan Navigasi & Pencegahan Kecelakaan

Lampu navigasi yang sesuai standar membantu kapal lain mendeteksi posisi dan arah kapal Anda — krusial di malam hari atau visibilitas rendah. Kesalahan lampu bisa menyebabkan tabrakan atau insiden di laut.

Kepatuhan Regulasi dan Sertifikasi

Kapal harus memenuhi persyaratan dari SOLAS, COLREG, dan klasifikasi agar tetap layak berlayar. Pemeriksaan lampu navigasi termasuk bagian dari audit reguler.

Efisiensi Operasional & Kenyamanan Kru

Pencahayaan internal yang baik membuat pekerjaan kru lebih efisien, mengurangi kesalahan, dan menjaga keselamatan kerja; khususnya di ruang mesin atau saat handling kargo malam hari.

Tahan Terhadap Kondisi Maritim

Lampu kapal sering terpapar garam, kelembapan, getaran, dan perubahan cuaca. Lampu dengan spesifikasi maritim memberikan umur pemakaian lebih panjang dan minim perawatan.

Praktik Pemeliharaan & Tips untuk Operator Kapal

Agar sistem penerangan berfungsi optimal secara terus-menerus, berikut beberapa praktik terbaik:

  • Selalu sediakan lampu cadangan (spare lamps) di onboard — terutama masthead, side, & stern lights. Regulasi mewajibkan duplicate light untuk kapal ≥ 50 m.
  • Rutin melakukan inspeksi visual & fungsi — pastikan lensa tidak retak, housing kedap air, kabel tidak korosi, dan lampu menyala dengan intensitas sesuai.
  • Gunakan material lampu marine-grade (anti-korosi, tahan garam, dan tahan getaran) agar umur lampu panjang.
  • Tentukan jadwal maintenance & penggantian — misalnya sea trial malam, pengecekan sebelum sailing, dan after-docking check.
  • Pastikan sistem penerangan terhubung ke power utama dan cadangan (emergency) sesuai regulasi agar lampu navigasi tetap menyala saat power utama mati.

Sistem penerangan kapal — baik navigational lights maupun lighting operasional internal — adalah fondasi keselamatan, regulasi, dan efisiensi operasional. Tanpa pencahayaan yang benar, kapal menghadapi risiko tinggi: tabrakan, grounding, insiden di dek, kegagalan fungsi mesin, hingga hilangnya sertifikasi.

Implementasi lampu sesuai standar internasional seperti IMO/SOLAS dan COLREG, ditambah perawatan rutin serta penggunaan lampu marine-grade, akan menjaga kapal tetap layak jalan dan aman bagi kru.

Sebagai perusahaan jasa dan servis kapal, PT Gastra Anugerah Sejahtera siap membantu Anda memastikan sistem penerangan kapal bekerja optimal — dari instalasi, audit, perawatan, hingga supply spare parts — agar operasional kapal tetap aman dan sesuai standar.

Docking Kapal  Definisi Jenis serta Prosesnya 1200x500

Prosedur Docking Kapal: Tahapan, Keamanan, dan Tujuan Utama

Docking kapal adalah salah satu proses paling krusial dalam siklus perawatan kapal. Meskipun kapal tampak kokoh dan selalu siap berlayar, kenyataannya setiap kapal membutuhkan perawatan berkala di dok untuk memastikan seluruh struktur bawah air, peralatan mekanis, hingga sistem keselamatannya tetap memenuhi standar internasional. Prosedur docking tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada perhitungan teknis, protokol keselamatan, dan mekanisme kerja yang telah diatur oleh badan klasifikasi seperti ABS, DNV, Lloyd’s Register, hingga pedoman keselamatan dari IMO.

Dalam dunia maritim, docking bukan hanya rutinitas. Ini adalah tahap penting yang menentukan umur teknis kapal, efisiensi operasional, hingga keamanan awak dan lingkungan. Karena itu, memahami tahapan docking secara menyeluruh menjadi hal penting, baik bagi pemilik kapal, marine engineer, maupun operator di galangan.

Tujuan Utama Docking Kapal

Sebelum memasuki detail tahapan, penting memahami terlebih dahulu mengapa proses docking dilakukan. Dalam praktik operasional, docking memiliki setidaknya tiga tujuan besar.

Pemeliharaan dan Pemeriksaan Struktur Bawah Air

Selama beroperasi, lambung kapal terus-menerus terpapar air laut, hewan laut, endapan, dan potensi korosi. Dengan docking, bagian bawah air dapat dibersihkan, diperiksa, dan diperbaiki tanpa hambatan.

Pemeriksaan Sistem Mekanis dan Keselamatan

Komponen seperti propeller, rudder, stern tube, sea chest, hingga anoda proteksi adalah elemen vital yang hanya dapat diperiksa secara menyeluruh saat kapal berada di atas dok. Ini juga mencakup inspeksi dari surveyor klasifikasi.

Memastikan Kapal Tetap Memenuhi Regulasi

Kapal wajib menjalani pemeriksaan periodik (special survey, annual survey, dry-docking survey). Tanpa docking, kapal bisa kehilangan sertifikat klasifikasi yang membuatnya tidak layak berlayar secara hukum maupun komersial.

Tahapan Docking Kapal yang Umum Dilakukan

Walaupun setiap galangan memiliki SOP masing-masing, prosedur docking pada umumnya mengikuti pola yang relatif sama. Tahapan ini dirancang untuk meminimalkan risiko kerusakan struktural dan menjamin keselamatan seluruh personel.

Persiapan Pra-Docking

Tahap awal diawali dengan koordinasi antara kapal, galangan, dan surveyor. Beberapa hal yang masuk dalam daftar pra-docking meliputi:

  • Pengukuran draft aktual kapal
    Data ini penting untuk memastikan posisi kapal saat masuk dok.
  • Pemeriksaan dok plan
    Docking plan menunjukkan titik tumpuan (keel blocks) yang harus sesuai dengan desain kapal. Ini menghindari risiko tekanan berlebih pada struktur lambung.
  • Pemberitahuan regulasi dan material yang akan dikerjakan
    Termasuk pekerjaan pengelasan, blasting, repainting, atau penggantian suku cadang.
  • Pengosongan tank tertentu
    Kapal biasanya wajib mengosongkan ballast tank tertentu untuk memastikan stabilitas saat masuk dok.

Persiapan yang matang terbukti mengurangi risiko kerusakan selama proses docking.

Masuk ke Dalam Dok (Docking Operation)

Ketika semua pemeriksaan awal selesai, proses docking dimulai. Kapal diarahkan perlahan ke dalam dok dengan bantuan tugboat atau thruster kapal. Di titik ini, komunikasi antara bridge, pilot, dan tim galangan sangat penting.

Setelah kapal berada di posisi yang tepat, air di dalam dry dock mulai dipompa keluar secara bertahap. Selama proses ini, surveyor dan tim galangan memantau apakah kapal bertumpu dengan benar pada keel blocks. Proses ini memerlukan ketelitian tinggi karena kesalahan kecil bisa menyebabkan deformasi pada struktur lambung.

Tahap Dry Docking dan Pekerjaan Perawatan

Begitu air surut sepenuhnya dan kapal “mendarat” dengan aman di atas blok dok, pekerjaan perawatan dimulai. Aktivitas umum pada tahap ini meliputi:

  • Blasting dan pembersihan lambung
    Menghilangkan marine growth, karang, dan endapan yang mengganggu efisiensi.
  • Pengecatan ulang (hull coating)
    Proses anti-fouling dan anti-corrosion coating untuk menjaga performa kapal.
  • Pemeriksaan propeller dan rudder
    Termasuk NDT (non-destructive test) jika diperlukan.
  • Penggantian anoda proteksi
    Untuk melindungi struktur dari korosi galvanik.
  • Pemeriksaan sea chest, valve, dan grill
    Bagian ini penting bagi aliran air pendingin mesin.

Surveyor klasifikasi biasanya akan memeriksa dan memberikan penilaian apakah kapal memenuhi standar atau membutuhkan tindakan tambahan.

Persiapan untuk Floating Up (Pengisian Air Kembali)

Setelah semua pekerjaan selesai, kapal dipastikan dalam kondisi aman untuk kembali mengapung. Peralatan, scaffolding, dan material yang tertinggal dibersihkan. Tim galangan lalu memasukkan air kembali ke dok secara perlahan sambil memastikan stabilitas kapal tetap terjaga.

Keluar dari Dok

Tahapan terakhir adalah ketika kapal sepenuhnya mengapung dan siap keluar dari dok. Proses ini melibatkan tugboat dan komunikasi intens antara kru kapal, pilot, dan tim dok. Setelah keluar, kapal biasanya menjalani sea trial terbatas untuk memastikan peralatan berfungsi optimal.

Prosedur Keamanan dalam Docking Kapal

Karena docking melibatkan pekerjaan berat dan penggunaan alat industri skala besar, standar keselamatan menjadi prioritas utama.

Berikut beberapa prinsip keamanan yang umum diterapkan:

  • Stabilitas kapal harus dihitung secara ketat untuk menghindari kondisi miring atau over-stress pada struktur.
  • Area kerja harus bebas dari material berbahaya, terutama saat dilakukan blasting atau pengelasan.
  • Sistem pemadam harus selalu siap, karena pekerjaan perbaikan sering melibatkan flame dan alat panas.
  • Pengawasan surveyor klasifikasi wajib dilakukan untuk memastikan prosedur sesuai standar.
  • Peralatan lifting diperiksa sebelum digunakan karena propeller atau rudder memiliki bobot yang tinggi dan berisiko menimbulkan kecelakaan.

Keamanan bukan hanya urusan galangan atau kapal, tetapi hasil kerja bersama seluruh pihak.


Manfaat Jangka Panjang dari Docking yang Tepat

Perawatan yang dilakukan secara konsisten di dry dock memberikan manfaat langsung dan tidak langsung pada operasional kapal, seperti:

  • peningkatan efisiensi bahan bakar berkat lambung yang bersih,
  • pengurangan risiko kerusakan mendadak di laut,
  • umur teknis kapal yang lebih panjang,
  • kepatuhan pada regulasi internasional,
  • nilai komersial kapal yang lebih stabil.

Dengan kata lain, docking bukan sekadar kewajiban, tetapi investasi penting untuk keberlanjutan operasional.

Docking kapal adalah proses kompleks yang melibatkan persiapan teknis, koordinasi lintas tim, dan penerapan standar keselamatan yang ketat. Mulai dari pra-docking, proses masuk dok, pekerjaan perawatan, hingga keluar dok, seluruh tahap bertujuan memastikan kapal tetap aman, efisien, dan memenuhi standar klasifikasi.

PT Gastra Anugerah Sejahtera mendukung operator kapal untuk menjaga performa armada melalui layanan perawatan mekanikal, inspeksi teknis, dan dukungan operasional yang sesuai standar industri. Dengan perawatan yang tepat, kapal Anda dapat bekerja dengan optimal dan aman di berbagai kondisi.