insight

Container ship g2d5e6e17b 1280 1200x500

Sistem Pendinginan Ruang Muat (Cargo Refrigeration System) untuk Kapal Niaga

Sistem pendinginan ruang muat atau Cargo Refrigeration System adalah salah satu teknologi paling penting pada kapal niaga yang mengangkut komoditas mudah rusak, seperti buah-buahan, daging, produk perikanan, farmasi, hingga muatan beku. Keberadaan sistem ini memastikan bahwa kualitas produk tetap terjaga, mencegah perubahan kimiawi, serta menjaga kesegaran selama perjalanan laut jarak jauh. Pada kapal tipe reefer atau kapal kontainer berpendingin (reefer container vessel), sistem pendinginan menjadi faktor yang sangat krusial untuk memenuhi standar rantai dingin (cold chain).

Artikel ini membahas fungsi, cara kerja, komponen, hingga standar regulasi yang mengatur sistem pendinginan ruang muat pada kapal niaga berdasarkan referensi teknis seperti IMO Guidelines, Refrigerated Cargo Handling Manuals, dan standar desain dari pabrikan sistem pendingin kapal.

Fungsi Utama Sistem Pendinginan Ruang Muat

Sistem pendinginan ruang muat memiliki beberapa fungsi utama:

Menjaga Suhu Stabil

Muatan seperti daging beku, ikan, produk susu, atau buah hanya bisa bertahan pada suhu tertentu. Misalnya, standar FAO untuk penyimpanan ikan beku merekomendasikan suhu sekitar –18°C atau lebih rendah agar kualitas tetap optimal. Tanpa pendinginan stabil, terjadi dekomposisi, pertumbuhan bakteri, atau perubahan tekstur.

Menjaga Kelembapan dan Sirkulasi Udara

Selain suhu, kelembapan memainkan peran penting. Buah dan sayuran membutuhkan kelembapan tertentu agar tidak mengering atau busuk. Sistem pendingin mengatur airflow agar udara dingin terdistribusi merata di seluruh ruang muat.

Mengontrol Atmosfer di Dalam Ruangan

Pada kapal tertentu digunakan Controlled Atmosphere (CA) dan Modified Atmosphere (MA) untuk memperlambat kematangan buah, menekan respirasi, dan menjaga kualitas selama transportasi jarak jauh.

Menjamin Kualitas Rantai Dingin (Cold Chain Integrity)

Rantai dingin harus terjaga dari gudang—pelabuhan—kapal—pelabuhan tujuan. Sistem pendinginan ruang muat merupakan titik paling kritis dalam rantai tersebut.

Prinsip Kerja Cargo Refrigeration System

Sistem pendinginan pada kapal bekerja berdasarkan prinsip siklus refrigerasi kompresi uap (vapor compression cycle) yang juga digunakan pada sistem AC dan cold storage industri.

Tahapan utamanya meliputi:

Evaporasi

Refrigerant menguap di evaporator, menyerap panas dari udara ruang muat, sehingga suhu ruangan menurun.

Kompresi

Vapor refrigerant dikompresi oleh compressor sehingga temperaturnya naik.

Kondensasi

Gas bertekanan tinggi dilewatkan ke condenser untuk didinginkan oleh air laut (sea water cooling), sehingga berubah menjadi cair.

Ekspansi

Refrigerant cair kemudian melewati expansion valve dan tekanannya turun drastis, membuatnya kembali siap menyerap panas di evaporator.

Sistem ini bekerja terus menerus, menjaga suhu stabil sesuai set point.

Komponen Utama Sistem Pendinginan Ruang Muat

Compressor

Jantung sistem refrigerasi. Kapal biasanya memakai kompresor tipe reciprocating, screw, atau scroll, tergantung kapasitas ruang muat.

Condenser

Umumnya menggunakan sea water–cooled condenser, memanfaatkan air laut sebagai media pendingin, karena lebih efisien dan stabil dibanding udara.

Evaporator

Terletak di dalam ruang muat, berfungsi menyerap panas dari ruangan. Desainnya harus tahan korosi dan mudah dibersihkan.

Expansion Valve

Mengatur aliran refrigerant dan mengontrol tekanan sebelum masuk evaporator.

Refrigerant

Kapal modern umumnya memakai refrigerant rendah emisi seperti R134a, R404A, atau alternatif ramah lingkungan yang memenuhi standar MARPOL Annex VI.

Air Circulation Fan

Mengatur distribusi udara dingin agar merata ke seluruh ruang muat.

Control System

Panel pengendali mengatur suhu, alarm, tekanan refrigerant, serta memonitor seluruh proses melalui sensor otomatis.

Jenis Sistem Pendinginan di Kapal Niaga

Direct Cooling System

Evaporator langsung berada di dalam ruang muat. Sistem ini memberikan pendinginan cepat, tetapi membutuhkan perawatan lebih intensif karena komponen berada dekat dengan muatan.

Indirect Cooling System

Menggunakan brine atau media cair lain sebagai perantara. Refrigerant tidak bersirkulasi langsung di ruang muat, sehingga lebih aman dan kecil risiko kebocoran.

Refrigerated Container (Reefer Containers)

Pada kapal kontainer modern, setiap kontainer memiliki sistem pendinginnya sendiri. Kapal hanya menyediakan daya listrik dan monitoring terpusat.

Standar dan Regulasi Sistem Pendinginan Kapal

IMO (International Maritime Organization)

Mengatur keselamatan dan efisiensi energi sistem pendingin, termasuk penggunaan refrigerant yang ramah lingkungan.

MARPOL Annex VI

Mengatur kontrol emisi dan pembatasan penggunaan refrigerant yang berpotensi merusak ozon (ODS) serta gas rumah kaca.

FAO & Codex Alimentarius

Memberikan standar kualitas penyimpanan makanan beku untuk memastikan keamanan pangan selama transportasi.

IACS (International Association of Classification Societies)

Mengatur persyaratan teknis sistem pendinginan, inspeksi, dan kelayakan peralatan.

Tantangan dalam Pengoperasian dan Pemeliharaan

Sistem pendinginan ruang muat harus beroperasi terus menerus selama pelayaran. Tantangan yang sering muncul antara lain:

  • Kebocoran refrigerant akibat getaran mesin kapal
  • Kondensor kurang efisien karena fouling dari air laut
  • Fan yang tertutup es atau kotoran
  • Kesalahan setting suhu yang menyebabkan overcooling atau undercooling
  • Kerusakan sensor yang membuat panel kontrol membaca data tidak akurat

Pemeliharaan rutin menjadi kunci keberhasilan pengoperasian sistem, termasuk pressure testing, pembersihan heat exchanger, dan pengecekan performa kompresor.

Pentingnya Perawatan Berkala

Perawatan yang baik memberikan beberapa manfaat penting:

  • Menghindari kerusakan komoditas bernilai tinggi
  • Mengurangi biaya operasional akibat konsumsi energi berlebihan
  • Memperpanjang umur peralatan pendingin
  • Memastikan kapal mematuhi regulasi emisi
  • Meningkatkan keandalan dalam rantai distribusi global

Kapal dengan sistem pendingin yang terawat baik memiliki nilai operasional lebih tinggi dan lebih dipercaya operator logistik.

Cargo Refrigeration System adalah infrastruktur vital dalam transportasi muatan sensitif suhu. Dengan memahami cara kerja, komponen, dan regulasinya, operator kapal dapat menjaga kualitas muatan, mematuhi standar internasional, serta mengoptimalkan efisiensi perjalanan.

Untuk kebutuhan maintenance, retrofit, atau inspeksi sistem pendinginan kapal, PT Gastra Anugerah Sejahtera menyediakan layanan teknis terpercaya dengan standar keselamatan industri maritim — memastikan kapal Anda selalu siap menghadapi tantangan rantai dingin global.

SEASTOCK Mobile

Marine Coating Tools: Peralatan Utama dalam Proses Pengecatan Kapal

Melakukan pengecatan kapal dengan coating maritim bukan hanya sekadar menyemprot cat di permukaan lambung. Ada rangkaian peralatan teknis yang sangat krusial agar lapisan cat bertahan lama, melekat dengan baik, dan memberikan proteksi maksimal terhadap korosi laut. Berikut ulasan tentang tool (alat) utama dalam proses marine coating serta fungsi dan praktik terbaiknya.

Persiapan Permukaan (Surface Preparation Tools)

Sebelum mengecat kapal, permukaan logam harus benar-benar bersih dari karat, cat lama, garam, dan kontaminan lain agar coating dapat menempel optimal. Salah satu alat paling penting di tahap ini adalah sandblaster. Metode sandblasting menggunakan media abrasif bertekanan tinggi untuk “mengikis” kerak karat dan cat lama sehingga menghasilkan profil permukaan ideal.

Untuk menghasilkan pembersihan tingkat tinggi, standar seperti SA 2.5 (near white metal) sering digunakan oleh aplikator marine coating sebelum pengecatan ulang.

Selain sandblaster, needle gun scaler juga menjadi alat alternatif untuk menghilangkan karat dan cat lama pada area yang sulit dengan tepat. Needle gun menggunakan jarum-jarum logam kecil yang memukul permukaan berulang kali untuk mengikis kontaminan.

Alat Aplikasi Cat (Coating Application Tools)

Setelah permukaan bersih, tahap berikutnya adalah menerapkan cat dengan alat yang tepat:

  • Airless Spray Gun sangat umum digunakan untuk marine coating karena dapat menyemprot cat berkepadatan tinggi dan viskositas tinggi dengan efisiensi tinggi.
  • Roller dan kuas kadang digunakan untuk area kecil, sudut, atau untuk lapisan priming yang memerlukan kontrol manual lebih.
  • Dalam beberapa proyek, teknologi thermal spray atau HVLP (High Volume Low Pressure) bisa dipakai, terutama untuk lapisan pelindung khusus seperti zinc inorganic atau pelapis keramik di struktur kapal.

Pemilihan perlengkapan aplikasi sangat bergantung pada jenis cat (misalnya epoxy, polyurethane), viskositas, dan area kapal yang akan dicat.

Alat Ukur dan Verifikasi (Inspection Tools)

Setelah cat diterapkan, penting untuk mengecek kualitas lapisan dan akurasinya menggunakan alat inspeksi:

  • Coating Thickness Gauge digunakan untuk mengukur ketebalan lapisan cat (film). Alat ini memastikan bahwa dry film thickness (DFT) sesuai dengan spesifikasi produsen cat dan persyaratan teknis.
  • Adhesion Test Equipment dapat dipakai untuk menguji daya rekat antara cat dan logam dasar.
  • Holiday Detector (Spark Tester) sering dipakai untuk mendeteksi adanya celah (void) atau kegagalan lapisan cat yang tak terlihat secara visual, terutama di struktur kritis yang butuh proteksi maksimal.

Alat Perlindungan dan Keamanan

Karena proses pengecatan kapal melibatkan bahan berbahaya dan debu dari blasting, penggunaan alat keselamatan sangat penting. Beberapa perlengkapan wajib antara lain:

  • Respirator / Masker khusus untuk melindungi dari inhalasi debu abrasif atau uap cat.
  • Pelindung tubuh (coverall), sarung tangan, dan sepatu safety.
  • Ventilasi di ruang kerja agar aliran udara menjaga keamanan pekerja dan mencegah penumpukan uap cat berbahaya.
  • Containment system (misalnya tarp atau plastik) untuk mengisolasi area pengecatan agar debu blasting dan tetesan cat tidak menyebar sembarangan.

Praktik Terbaik Penggunaan Alat Coating

Untuk mendapatkan hasil coating yang optimal:

  • Gunakan blast media dan tekanan blasting yang tepat agar profil permukaan sesuai untuk adhesi.
  • Pilih spray gun dan nozzle sesuai dengan jenis cat dan viscosity-nya agar hasil semprot rata dan efisien.
  • Lakukan pengukuran ketebalan cat secara rutin menggunakan gauge, agar tidak under-coated atau over-coated.
  • Setelah pengecatan, lakukan curing (pengeringan) sesuai spesifikasi cat agar lapisan mencapai kekuatan maksimal.
  • Simpan alat seperti spray gun dan gauge dengan baik setelah digunakan agar presisinya tetap terjaga.

Manfaat Penggunaan Alat yang Tepat

Dengan menggunakan tool marine coating yang sesuai dan memadai:

  • Coating dapat diaplikasikan dengan kualitas tinggi, menjamin adhesi dan daya tahan.
  • Risiko kegagalan cat seperti blister, delaminasi, atau korosi bisa diminimalkan.
  • Pekerjaan pengecatan menjadi lebih efisien dalam waktu dan penggunaan bahan.
  • Keamanan kru lebih terjaga karena perlindungan debu dan uap cat telah diatur dengan baik.

Peralatan marine coating adalah fondasi dari proses pengecatan kapal yang andal, tahan lama, dan aman. Dari sandblaster, needle gun, hingga spray gun dan gauge ketebalan, tiap alat memiliki peran penting dalam rangkaian proteksi lambung kapal. Dengan menggunakan peralatan yang tepat dan mengikuti praktik terbaik, hasil pengecatan dapat memberikan perlindungan maksimal terhadap korosi laut.

Sebagai perusahaan penyedia layanan servis kapal, PT Gastra Anugerah Sejahtera siap mendukung Anda dengan fasilitas pengecatan kapal menggunakan peralatan coating profesional serta tenaga ahli berpengalaman — agar kapal Anda tetap aman, awet, dan tampil prima.

Nautical Winch Image 1024x768 1 1024x500

Penggunaan Rope dan Wire di Kapal: Perbedaan, Kekuatan, dan Standar Keselamatan

Dalam dunia maritim, rope dan wire merupakan komponen vital yang berperan dalam berbagai kegiatan seperti mooring, towing, dan lifting. Setiap jenis memiliki karakteristik teknis, kekuatan, serta fungsi yang berbeda. Memahami perbedaan rope dan wire, standar keselamatan penggunaannya, serta prosedur inspeksi yang benar sangat penting untuk memastikan keselamatan awak kapal maupun kelancaran operasional.

Artikel ini membahas secara komprehensif fungsi rope dan wire, jenis material, keunggulan teknis, serta standar keselamatan internasional seperti OCIMF, ISO, dan SOLAS yang menjadi acuan industri.

Rope dan Wire dalam Industri Kapal

Rope atau tali sintetis pada kapal umumnya dibuat dari material modern seperti polypropylene, polyester, nylon (polyamide), dan HMPE (High Modulus Polyethylene). Rope sintetis memiliki karakteristik ringan, fleksibel, dan tahan air laut. Berdasarkan OCIMF Mooring Equipment Guidelines (MEG4), rope sintetis sangat ideal digunakan untuk keperluan mooring karena mampu menyerap beban kejut (shock load) dengan baik.

Sementara itu, wire rope atau tali kawat terbuat dari baja berkekuatan tinggi seperti galvanized steel, stainless steel, atau carbon steel. Wire rope lebih kuat menghadapi abrasi dan cocok untuk operasi berat seperti towing tugboat, crane lifting, dan keperluan mooring pada kapal besar. Standar teknis wire rope diatur dalam ISO 2408, yang menetapkan spesifikasi diameter, tensile strength, dan breaking load minimal.

Perbedaan Teknis antara Rope dan Wire

Kekuatan Tarik (Breaking Strength)

Rope modern berbahan HMPE memiliki kekuatan tarik sangat tinggi, bahkan dapat melampaui wire rope dengan diameter yang sama. Berdasarkan pengujian dalam standar ISO 2307, HMPE rope dapat memiliki breaking load 30–40% lebih besar dibandingkan wire rope. Namun wire masih unggul untuk penggunaan yang menuntut ketahanan terhadap tekanan dan abrasi ekstrem.

Berat dan Kemudahan Penanganan

Rope sintetis jauh lebih ringan dibandingkan wire rope. Hal ini menjadikan rope lebih aman dan mudah saat digunakan oleh tim mooring. Wire rope lebih berat dan membutuhkan mesin bantu seperti winch yang lebih kuat.

Elastisitas dan Penyerapan Beban

Nylon rope memiliki elastisitas tinggi sehingga dapat menyerap beban kejut, terutama saat kapal bergerak karena angin dan arus. Sebaliknya, wire rope hampir tidak memiliki elastisitas sehingga cocok untuk penggunaan statis atau tarikan langsung seperti crane.

Resistansi Terhadap Lingkungan Laut

Rope sintetis tidak mengalami korosi, tetapi rentan terhadap UV dan abrasi permukaan. Wire rope sangat rentan korosi, terutama pada bagian core dalam lingkungan laut, sehingga membutuhkan pelumasan rutin sesuai standar ISO 4309.

Penggunaan Rope dan Wire dalam Operasional Kapal

Rope biasanya digunakan untuk keperluan mooring karena fleksibel, ringan, dan aman bagi awak kapal. HMPE rope bahkan memiliki karakteristik low-snapback yang mengurangi risiko kecelakaan.

Wire rope lebih banyak digunakan untuk towing tugboat, operasi crane, dan aplikasi yang membutuhkan beban tarik sangat besar serta ketahanan abrasi jangka panjang. Pada kondisi ekstrem, wire dapat memberikan stabilitas struktural lebih baik dibanding rope.

Standar Keselamatan Internasional

OCIMF Mooring Equipment Guidelines (MEG4)

MEG4 memberikan panduan lengkap tentang:

  • Minimum Breaking Load (MBL)
  • Line Management Plan (LMP)
  • Theoretical and verified load data
  • Kriteria inspeksi dan retirement rope serta wire

MEG4 juga menekankan pentingnya memahami snapback zone sebagai mitigasi kecelakaan fatal.

SOLAS (Safety of Life at Sea)

SOLAS mengatur keselamatan peralatan mooring dan konstruksi deck mooring, termasuk kapasitas winch serta tata letak tali untuk menghindari potensi bahaya terhadap awak kapal.

ISO Standards

  • ISO 2307 – pengukuran breaking strength rope
  • ISO 9554 – konstruksi dan penandaan rope sintetis
  • ISO 4309 – inspeksi dan penggantian wire rope
  • ISO 2408 – persyaratan wire rope untuk keperluan perkapalan

Prosedur Inspeksi dan Perawatan Rope dan Wire

Rope sintetis harus diperiksa secara berkala terhadap abrasi, perubahan warna, deformasi, dan fiber break. Penyimpanan rope harus di ruang kering dan terlindung dari sinar UV.

Wire rope membutuhkan inspeksi lebih intensif karena rentan korosi, birdcaging, broken wires, dan pengurangan diameter. Wire rope harus dilumasi dengan pelumas marine-grade untuk menjaga fleksibilitas dan mencegah korosi internal.

Risiko Bahaya: Snapback Effect

Snapback adalah salah satu bahaya paling mematikan di deck kapal. Saat rope atau wire putus, energi yang tersimpan dalam tali dapat memantul dengan kecepatan ekstrem. OCIMF mencatat bahwa snapback dapat bergerak dengan kecepatan hingga ratusan km/jam.

Pencegahan meliputi:

  • Menandai snapback zones.
  • Menggunakan rope low-snapback seperti HMPE.
  • Memastikan komunikasi jelas antar ABK saat mooring.
  • Menggunakan APD lengkap.

Rope dan wire memiliki fungsi masing-masing dalam operasi maritim, dengan karakteristik teknis yang berbeda tergantung kebutuhan mooring, towing, maupun lifting. Pemahaman terhadap material, kekuatan tarik, elastisitas, serta standar internasional adalah kunci keselamatan dan efisiensi kerja di kapal.

Sebagai perusahaan yang berpengalaman dalam layanan perawatan, pengadaan rope, wire, serta perlengkapan mooring, PT Gastra Anugerah Sejahtera siap mendukung kebutuhan operasional kapal Anda dengan solusi yang aman, berkualitas, dan sesuai standar industri global.

Yuk Kenali Jenis Jenis Kapal Laut Beserta Fungsinya 1200x500

Jenis dan Fungsi Katup (Valve) di Sistem Pipa Kapal

Di kapal, katup atau valve memainkan peran penting dalam pengendalian aliran fluida—baik itu air laut, air tawar, bahan bakar, oli maupun uap. Tanpa katup yang tepat, sistem pipa kapal tidak akan berfungsi dengan aman atau efisien. Artikel ini akan membahas berbagai jenis valve yang umum digunakan di kapal, fungsi masing-masing, karakteristik teknis dan aspek keselamatan penting untuk pemilihan dan pemeliharaan.

Mengapa Valve Penting di Kapal

Valve pada kapal memiliki beberapa tugas utama seperti:

  • menghidupkan atau mematikan aliran fluida.
  • mengatur kecepatan aliran atau arah aliran fluida.
  • mencegah aliran balik (backflow) yang bisa merusak sistem atau menyebabkan kebocoran.
  • melepaskan tekanan berlebih dalam sistem untuk keselamatan.

Karena kapal beroperasi di lingkungan yang keras—korosi air laut, getaran, tekanan tinggi—katup yang digunakan harus memenuhi standar kualitas maritim, bahan tahan korosi dan spesifikasi teknis yang sesuai.

Jenis-Jenis Katup yang Umum Digunakan di Kapal

Berikut adalah beberapa jenis valve yang paling sering ditemukan dan fungsi spesifiknya:

1. Gate Valve

Valve ini menggunakan “pintu” (gate) yang naik/turun untuk membuka atau menutup aliran.
Fungsi utama: digunakan untuk isolasi aliran penuh (open/close) tanpa regulasi aliran. Karena itu cocok untuk pipa bahan bakar, ballast, cargo heavy fluid.
Kelebihan: tekanan drop rendah saat fully open. Kekurangan: Tidak cocok untuk pengaturan aliran (throttling) dan lebih lambat saat operasi.

2. Ball Valve

Valve jenis ini menggunakan bola berlubang yang berputar 90° untuk menghidupkan atau mematikan aliran.
Fungsi utama: isolasi cepat dan seal yang kuat; cocok untuk sistem bahan bakar, oli atau gas dimana stop/start cepat diperlukan.
Kelebihan: cepat operasi, tekanan drop rendah. Kekurangan: Kurang ideal untuk regulasi aliran halus.

3. Globe Valve

Valve ini dilengkapi disk yang bergerak naik/turun terhadap seat untuk mengatur aliran.
Fungsi utama: untuk regulasi aliran atau tekanan di sistem yang membutuhkan kontrol halus, misalnya sistem cooling, lube oil atau steam.
Kelebihan: kontrol aliran baik. Kekurangan: Tekanan drop lebih besar, ukuran bisa besar.

4. Butterfly Valve

Disk yang berputar di tengah pipa untuk membuka/tutup aliran.
Fungsi utama: isolasi atau regulasi aliran dalam ruang terbatas; digunakan untuk seawater cooling, ventilasi atau ballast.
Kelebihan: ringan, cepat, ukuran kompakt. Kekurangan: Tidak ideal untuk beban sangat tinggi atau sealing kritis.

5. Check Valve (Non-Return Valve)

Valve otomatis yang membolehkan aliran hanya satu arah, mencegah backflow.
Fungsi utama: mencegah aliran balik di sistem bilge, cargo, fuel atau ballast, yang bisa menyebabkan kerusakan pompa atau keamanan kapal.
Kelebihan: operasi otomatis tanpa aktuasi eksternal. Kekurangan: Tidak dapat digunakan untuk kontrol aliran aktif.

6. Relief / Safety Valve

Valve yang secara otomatis membuka untuk melepaskan tekanan berlebih.
Fungsi utama: melindungi sistem tertutup (tank, boiler, piping) agar tidak mengalami over-pressure yang berbahaya.
Kelebihan: keselamatan tinggi. Kekurangan: harus dikalibrasi dan diuji secara rutin.

Pemilihan Valve dan Standar Keselamatan

Ketika memilih katup untuk kapal, faktor-faktor berikut harus dipertimbangkan:

  • Material: harus tahan korosi air laut—contoh stainless steel, super duplex, bronze.
  • Tekanan dan suhu operasi: valve harus sesuai rating nominal pipe, tekanan dan temperatur fluida.
  • Fungsi sistem: isolasi vs regulasi vs keamanan (relief) → pilih jenis valve yang tepat sesuai fungsi.
  • Standar maritim dan sertifikasi: valve harus memenuhi standar klasifikasi, marine stores guide, dan dokumentasi instalasi harus lengkap.

Aspek keselamatan juga sangat penting:

  • Valve harus diperiksa rutin untuk kebocoran, keausan sealing, korosi, dan fungsi aktuasi.
  • Valve safety dan relief terutama harus diuji sesuai interval.
  • Dokumentasi lengkap instalasi dan pemeliharaan valve sangat penting untuk audit dan inspeksi kapal.

Praktik Pemeliharaan Valve di Kapal

Untuk menjaga valve berfungsi dengan baik, berikut beberapa rekomendasi operasional:

  • Buat jadwal inspeksi rutin: visual check, pengujian penutupan/ pembukaan valve, pengukuran tekanan drop.
  • Lakukan lubrication/gland packing renewal pada valve rising stem atau gate.
  • Pastikan terminasi aktuator/handle dalam kondisi baik dan terkunci agar tidak terjadi pemakaian tidak sengaja.
  • Catat semua aktivitas valve dalam log pemeliharaan—termasuk penggantian seal, stem, seat atau overhaul.
  • Pastikan bagian valve yang berada di bawah laut atau dekat air laut mendapat pemantauan korosi lebih intensif.
  • Untuk relief valve, lakukan testing set pressure dan pastikan reseat pressure sesuai spesifikasi.

Valve adalah komponen kecil namun krusial dalam sistem pipa kapal—dengan berbagai jenis seperti gate, ball, globe, butterfly, check dan relief, masing-masing memiliki fungsi khusus dan karakteristik teknis berbeda. Pemilihan yang tepat dan pemeliharaan yang baik sangat penting untuk keselamatan, efisiensi dan keandalan kapal. Sebagai perusahaan jasa servis kapal yang memahami pentingnya sistem pipa dan valve, PT Gastra Anugerah Sejahtera (GASTRA) siap membantu Anda dalam pemilihan valve, instalasi dan pemeliharaan sistem pipa kapal—agar armada Anda tetap aman, andal dan siap operasi.