Keselamatan Pelayaran

11  mantus snap on on sternrail hampton bay on winch 696x522 jpg optimal 696x500

Standar Penerangan Navigasi Kapal: Panduan Lengkap untuk Keselamatan Berlayar

Penerangan navigasi kapal merupakan salah satu sistem keselamatan paling fundamental dalam dunia pelayaran. Keberadaan lampu navigasi tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu visual, tetapi juga sebagai sarana komunikasi antar kapal di laut. Dalam kondisi visibilitas rendah, malam hari, atau cuaca buruk, penerangan navigasi menjadi penentu utama dalam mencegah tabrakan dan memastikan kapal dapat dikenali dengan benar oleh kapal lain.

Karena perannya yang sangat vital, sistem penerangan navigasi diatur secara ketat oleh regulasi internasional, terutama International Regulations for Preventing Collisions at Sea (COLREG) yang dikeluarkan oleh International Maritime Organization (IMO). Setiap kapal, baik niaga maupun penumpang, wajib mematuhi standar ini agar keselamatan pelayaran dapat terjaga.

Fungsi Penerangan Navigasi di Kapal

Secara prinsip, penerangan navigasi memiliki tiga fungsi utama. Pertama, menunjukkan arah dan posisi kapal terhadap kapal lain. Kedua, membantu kapal lain mengidentifikasi jenis dan ukuran kapal. Ketiga, memberikan informasi terkait status operasional kapal, seperti sedang berlayar, berlabuh, atau melakukan manuver terbatas.

Lampu navigasi yang terpasang dengan benar memungkinkan nahkoda kapal lain mengambil keputusan navigasi secara cepat dan akurat. Kesalahan pemasangan, warna yang tidak sesuai, atau lampu yang tidak berfungsi dapat menyebabkan salah tafsir yang berujung pada kecelakaan laut.

Standar Internasional yang Mengatur Penerangan Navigasi

Standar penerangan navigasi kapal diatur dalam COLREG 1972, khususnya pada Rule 20 hingga Rule 31. Aturan ini menetapkan jenis lampu, warna, intensitas cahaya, sudut pancaran, dan posisi pemasangan lampu di kapal.

Beberapa ketentuan utama dalam COLREG antara lain:

  • Warna lampu harus jelas dan sesuai ketentuan (merah, hijau, putih, dan kuning).
  • Jarak tampak lampu disesuaikan dengan panjang kapal.
  • Sudut pancaran lampu harus memenuhi sektor yang ditentukan agar dapat terlihat dari arah yang benar.
  • Lampu harus berfungsi secara terus-menerus selama kapal beroperasi pada kondisi yang diwajibkan.

Selain COLREG, penerangan navigasi juga berkaitan dengan ketentuan keselamatan dalam SOLAS (Safety of Life at Sea), terutama terkait keandalan sistem kelistrikan dan emergency lighting.

Jenis-Jenis Lampu Navigasi Kapal

Setiap kapal memiliki beberapa jenis lampu navigasi dengan fungsi spesifik. Lampu-lampu ini harus dipasang sesuai posisi dan spesifikasi teknis yang ditetapkan.

Lampu sisi atau sidelights terdiri dari lampu merah di sisi kiri (port) dan lampu hijau di sisi kanan (starboard). Lampu ini menunjukkan arah haluan kapal dan membantu kapal lain menentukan arah lintasan.

Lampu tiang atau masthead light berwarna putih dipasang di bagian depan kapal dan memancarkan cahaya ke arah depan dan samping. Lampu ini menjadi indikator utama bahwa kapal sedang berlayar menggunakan tenaga mesin.

Lampu buritan atau stern light berwarna putih dipasang di bagian belakang kapal dan menunjukkan posisi buritan.

Lampu serba arah atau all-round light digunakan untuk kondisi tertentu, seperti kapal berlabuh, kapal dengan kemampuan manuver terbatas, atau kapal tunda.

Selain itu, terdapat juga anchor light, towing light, dan special signal lights yang digunakan sesuai kondisi operasional kapal.

Persyaratan Intensitas dan Jarak Tampak Lampu

COLREG menetapkan jarak tampak minimum lampu navigasi berdasarkan panjang kapal. Sebagai contoh, kapal dengan panjang lebih dari 50 meter harus memiliki lampu masthead yang terlihat hingga jarak minimal 6 mil laut. Sementara kapal yang lebih kecil memiliki persyaratan jarak tampak yang lebih pendek.

Intensitas cahaya harus cukup terang untuk terlihat jelas, tetapi tidak menyilaukan. Penggunaan lampu dengan spesifikasi yang tidak sesuai sering menjadi temuan dalam inspeksi Port State Control (PSC) karena dapat mengganggu keselamatan navigasi kapal lain.

Sistem Kelistrikan dan Keandalan Lampu Navigasi

Lampu navigasi harus terhubung dengan sistem kelistrikan utama kapal dan didukung oleh emergency power supply. Dalam kondisi kegagalan listrik utama, lampu navigasi tertentu tetap harus berfungsi melalui sumber daya darurat.

Keandalan sistem ini menjadi perhatian utama dalam audit keselamatan kapal. Kabel, panel kontrol, serta sakelar lampu navigasi harus dalam kondisi baik dan terlindungi dari korosi maupun kelembapan.

Perawatan dan Pemeriksaan Berkala

Perawatan rutin penerangan navigasi merupakan bagian dari preventive maintenance kapal. Pemeriksaan harian biasanya dilakukan oleh kru jaga untuk memastikan semua lampu berfungsi normal sebelum kapal berlayar.

Perawatan berkala mencakup pembersihan cover lampu, pemeriksaan sambungan kabel, penggantian bohlam atau LED, serta pengecekan sistem cadangan listrik. Lampu navigasi yang redup atau tidak berfungsi harus segera diganti untuk menghindari risiko keselamatan dan pelanggaran regulasi.

Temuan Umum dalam Inspeksi Navigational Lighting

Berdasarkan laporan PSC dan badan klasifikasi, temuan umum terkait penerangan navigasi meliputi:

  • Lampu mati atau tidak menyala sesuai fungsi
  • Warna lampu tidak sesuai standar
  • Sudut pancaran terhalang struktur kapal
  • Sistem emergency lighting tidak berfungsi
  • Panel kontrol lampu tidak diberi label dengan jelas

Temuan-temuan ini dapat menyebabkan detensi kapal jika dianggap membahayakan keselamatan pelayaran.

Pentingnya Kepatuhan terhadap Standar Penerangan Navigasi

Kepatuhan terhadap standar penerangan navigasi bukan hanya kewajiban regulasi, tetapi juga bentuk tanggung jawab profesional dalam menjaga keselamatan di laut. Sistem lampu navigasi yang andal membantu mencegah tabrakan, mengurangi risiko kecelakaan, dan meningkatkan kepercayaan pihak charterer serta otoritas pelabuhan.

Investasi pada sistem penerangan yang sesuai standar dan perawatan yang konsisten akan memberikan manfaat jangka panjang bagi operasional kapal.

Standar penerangan navigasi kapal merupakan elemen krusial dalam sistem keselamatan pelayaran. Dengan memahami jenis lampu, ketentuan pemasangan, serta pentingnya perawatan rutin, risiko kecelakaan di laut dapat ditekan secara signifikan.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang layanan teknis maritim, PT Gastra Anugerah Sejahtera berkomitmen mendukung pemilik dan operator kapal dalam memastikan sistem navigasi dan keselamatan kapal selalu memenuhi standar internasional, sehingga kapal dapat beroperasi dengan aman, andal, dan patuh regulasi.

83771

Anchor Windlass: Fungsi, Jenis, dan Prosedur Perawatan

Dalam dunia pelayaran, sistem jangkar memegang peranan penting dalam menjaga posisi kapal saat berlabuh. Salah satu komponen utama dalam sistem ini adalah anchor windlass. Meski ukurannya relatif tidak sebesar mesin utama, kegagalan anchor windlass dapat berdampak serius terhadap keselamatan kapal, kru, dan lingkungan sekitar pelabuhan atau anchorage area.

Anchor windlass bukan sekadar alat penarik jangkar, tetapi sistem mekanis yang dirancang untuk bekerja di bawah beban berat dan kondisi lingkungan ekstrem. Oleh karena itu, pemahaman mengenai fungsi, jenis, serta prosedur perawatan anchor windlass menjadi aspek penting dalam manajemen teknis kapal.

Pengertian dan Fungsi Anchor Windlass

Anchor windlass adalah mesin mekanis yang digunakan untuk menurunkan (letting go) dan menaikkan (heaving up) jangkar kapal beserta rantainya. Sistem ini dirancang untuk mengontrol pergerakan jangkar secara aman, stabil, dan terukur, baik saat proses anchoring maupun saat kapal bersiap melanjutkan pelayaran.

Fungsi utama anchor windlass meliputi:

  • Mengangkat dan menurunkan jangkar dengan aman
  • Mengontrol kecepatan dan arah pergerakan rantai jangkar
  • Menahan beban jangkar dan rantai saat kapal berlabuh
  • Mendukung stabilitas kapal dalam kondisi arus dan angin tertentu

Dalam kondisi darurat, anchor windlass juga berperan penting dalam manuver keselamatan, misalnya saat kapal perlu segera menghentikan pergerakan atau menahan posisi.

Komponen Utama Anchor Windlass

Secara umum, anchor windlass terdiri dari beberapa komponen utama yang saling terintegrasi:

Wildcat (Gypsy Wheel)
Bagian berbentuk roda bergerigi yang berfungsi mencengkeram dan menarik rantai jangkar sesuai ukuran mata rantai.

Motor Penggerak
Dapat berupa motor listrik atau sistem hidrolik, tergantung desain dan spesifikasi kapal.

Gearbox
Berfungsi mengatur torsi dan kecepatan putaran agar sesuai dengan beban kerja.

Brake System
Digunakan untuk mengendalikan dan menghentikan pergerakan jangkar serta menahan beban saat jangkar sudah terpasang di dasar laut.

Clutch dan Control System
Mengatur mode operasi, baik manual maupun otomatis, serta memungkinkan pemisahan antara windlass dan sistem penahan rantai.

Setiap komponen ini harus bekerja secara presisi untuk menjamin keselamatan selama operasi anchoring.

Jenis-Jenis Anchor Windlass

Anchor windlass diklasifikasikan berdasarkan beberapa aspek, terutama orientasi dan sistem penggeraknya.

Berdasarkan Orientasi

Horizontal Windlass
Umumnya digunakan pada kapal berukuran besar karena memiliki konstruksi yang lebih kuat dan tahan terhadap beban tinggi. Komponen utama dipasang secara horizontal di atas deck.

Vertical Windlass
Banyak digunakan pada kapal kecil hingga menengah. Desainnya lebih ringkas karena sebagian komponen berada di bawah deck, sehingga menghemat ruang di atas geladak.

Berdasarkan Sistem Penggerak

Electric Anchor Windlass
Menggunakan motor listrik sebagai sumber tenaga. Sistem ini relatif mudah dalam perawatan dan banyak digunakan pada kapal niaga modern.

Hydraulic Anchor Windlass
Mengandalkan sistem hidrolik dengan daya besar dan stabil. Umumnya dipilih untuk kapal yang beroperasi dengan beban jangkar sangat berat, seperti tanker dan kapal offshore.

Pemilihan jenis anchor windlass harus disesuaikan dengan ukuran kapal, jenis operasi, dan regulasi klasifikasi yang berlaku.

Standar dan Regulasi Terkait Anchor Windlass

Penggunaan dan perawatan anchor windlass diatur oleh berbagai standar internasional. Beberapa di antaranya:

  • SOLAS (Safety of Life at Sea), yang mengatur keselamatan sistem penahan kapal
  • IACS Unified Requirements, terkait kekuatan dan desain peralatan anchoring
  • ISO 4568 dan ISO 1704, yang mengatur spesifikasi teknis windlass dan anchor chain
  • Ketentuan badan klasifikasi seperti BKI, DNV, ABS, dan Lloyd’s Register

Kepatuhan terhadap standar ini memastikan anchor windlass mampu bekerja sesuai desain dan aman dalam kondisi operasional nyata.

Prosedur Perawatan Anchor Windlass

Perawatan anchor windlass merupakan bagian penting dari preventive maintenance kapal. Tanpa perawatan rutin, risiko kegagalan mekanis akan meningkat secara signifikan.

Pemeriksaan Harian dan Berkala
Pemeriksaan visual dilakukan untuk mendeteksi retakan, keausan, atau kebocoran pada sistem hidrolik dan gearbox. Kondisi brake dan clutch juga harus dipastikan berfungsi normal.

Pelumasan dan Proteksi Korosi
Komponen bergerak seperti bearing, gear, dan shaft membutuhkan pelumasan sesuai rekomendasi pabrikan. Mengingat windlass terpapar air laut secara langsung, perlindungan terhadap korosi menjadi prioritas utama.

Pengujian Operasional
Windlass perlu diuji secara berkala dengan menaikkan dan menurunkan jangkar untuk memastikan motor, gearbox, dan sistem kontrol bekerja dengan baik.

Pemeriksaan Sistem Kelistrikan atau Hidrolik
Kabel, panel kontrol, serta tekanan sistem hidrolik harus diperiksa untuk mencegah kegagalan mendadak saat operasi.

Dokumentasi Perawatan
Seluruh aktivitas perawatan wajib dicatat dalam log maintenance sebagai bagian dari Planned Maintenance System (PMS) kapal.

Risiko Jika Perawatan Diabaikan

Anchor windlass yang tidak terawat dapat menyebabkan berbagai risiko serius, seperti:

  • Jangkar tidak dapat dinaikkan atau diturunkan
  • Kegagalan sistem pengereman yang berbahaya
  • Kerusakan rantai jangkar
  • Potensi kecelakaan kru di area forecastle
  • Gangguan operasional saat sandar atau berlabuh

Kasus kegagalan windlass sering menjadi temuan utama dalam inspeksi Port State Control (PSC) karena berhubungan langsung dengan keselamatan kapal.

Anchor windlass adalah komponen vital yang berperan besar dalam keselamatan dan kelancaran operasi kapal. Pemahaman yang baik mengenai fungsi, jenis, serta prosedur perawatannya membantu mencegah kegagalan sistem yang dapat berdampak luas, baik secara teknis maupun operasional.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang layanan teknis maritim, PT Gastra Anugerah Sejahtera mendukung pemilik dan operator kapal dalam menjaga keandalan sistem anchoring melalui pendekatan perawatan yang tepat, terukur, dan sesuai standar industri—agar setiap kapal selalu siap beroperasi dengan aman dan efisien.

Ship Maintenance 1 1024x678 1 1024x500

Pentingnya Preventive Maintenance Kapal untuk Mencegah Kerusakan Besar

Dalam industri maritim, kapal merupakan aset bernilai tinggi yang beroperasi di lingkungan ekstrem dan penuh risiko. Paparan air laut, getaran mesin, perubahan suhu, hingga beban operasional yang berat membuat setiap komponen kapal rentan mengalami keausan. Di sinilah preventive maintenance kapal menjadi kunci utama untuk menjaga keandalan sistem, keselamatan awak, dan keberlanjutan operasional.

Preventive maintenance bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan strategi perawatan terencana yang bertujuan mencegah kerusakan sebelum terjadi. Pendekatan ini telah menjadi standar di industri pelayaran global karena terbukti lebih efektif dan ekonomis dibanding perbaikan darurat akibat kegagalan sistem.

Apa Itu Preventive Maintenance Kapal?

Preventive maintenance kapal adalah serangkaian aktivitas perawatan yang dilakukan secara berkala dan terjadwal untuk memastikan seluruh sistem kapal berfungsi optimal. Perawatan ini mencakup pemeriksaan, pelumasan, penyetelan, penggantian komponen, hingga pengujian sistem sesuai rekomendasi pabrikan dan standar klasifikasi.

Berbeda dengan corrective maintenance yang bersifat reaktif setelah terjadi kerusakan, preventive maintenance bersifat proaktif. Tujuannya adalah mendeteksi potensi masalah sejak dini, sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan sebelum menimbulkan dampak besar terhadap operasi kapal.

Dalam praktiknya, preventive maintenance menjadi bagian integral dari Planned Maintenance System (PMS) yang diwajibkan oleh banyak badan klasifikasi kapal seperti BKI, DNV, ABS, dan Lloyd’s Register.

Mengapa Preventive Maintenance Sangat Penting?

Kegagalan sistem kapal jarang terjadi secara tiba-tiba. Sebagian besar diawali oleh tanda-tanda kecil seperti getaran abnormal, kebocoran ringan, atau penurunan performa mesin. Tanpa preventive maintenance, gejala-gejala ini sering terabaikan hingga akhirnya berkembang menjadi kerusakan besar.

Beberapa alasan utama pentingnya preventive maintenance kapal antara lain:

Mencegah Kerusakan Besar dan Biaya Tinggi
Kerusakan mesin utama, sistem propulsi, atau sistem kelistrikan dapat menimbulkan biaya perbaikan yang sangat besar. Preventive maintenance membantu menghindari kerusakan fatal dengan biaya perawatan yang jauh lebih terkendali.

Mengurangi Downtime Operasional
Kapal yang mengalami breakdown mendadak akan kehilangan waktu operasional, mengganggu jadwal pelayaran, dan berpotensi menimbulkan penalti kontrak. Perawatan terencana menjaga kapal tetap siap beroperasi sesuai jadwal.

Meningkatkan Keselamatan Awak Kapal
Sistem kapal yang tidak terawat meningkatkan risiko kecelakaan kerja, kebakaran, atau kegagalan sistem keselamatan. Preventive maintenance berperan langsung dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi kru.

Memenuhi Standar Regulasi dan Klasifikasi
Badan klasifikasi dan otoritas maritim mensyaratkan penerapan sistem perawatan yang terdokumentasi dengan baik. Preventive maintenance membantu kapal tetap comply terhadap audit, survey, dan inspeksi resmi.

Komponen Kapal yang Wajib Masuk Preventive Maintenance

Preventive maintenance kapal mencakup hampir seluruh sistem utama dan pendukung. Beberapa di antaranya adalah:

Mesin Utama dan Mesin Bantu
Pemeriksaan berkala meliputi sistem pelumasan, pendinginan, bahan bakar, serta kondisi komponen internal. Penggantian filter dan oli sesuai jam kerja menjadi bagian krusial.

Sistem Kelistrikan dan Kontrol
Panel listrik, generator, alarm system, dan automation system harus diuji secara rutin untuk memastikan keandalan suplai listrik kapal.

Sistem Propulsi dan Steering Gear
Propeller, shaft, bearing, dan sistem kemudi membutuhkan inspeksi untuk mencegah kegagalan yang dapat membahayakan navigasi.

Hull, Deck, dan Struktur Kapal
Pemeriksaan korosi, retak, serta kondisi deck fittings, pintu kedap air, dan sistem penutup sangat penting untuk menjaga integritas struktur kapal.

Sistem Keselamatan
Fire fighting system, life saving appliances, dan emergency equipment wajib dirawat agar selalu siap digunakan dalam kondisi darurat.

Preventive Maintenance dan Efisiensi Operasional

Selain mencegah kerusakan, preventive maintenance memiliki dampak langsung terhadap efisiensi operasional kapal. Mesin yang terawat bekerja lebih optimal, konsumsi bahan bakar lebih stabil, dan emisi dapat ditekan sesuai regulasi lingkungan.

Dalam jangka panjang, kapal dengan program preventive maintenance yang baik cenderung memiliki usia pakai lebih panjang dan nilai aset yang lebih terjaga. Hal ini menjadi keuntungan strategis bagi pemilik kapal dan operator dalam menghadapi persaingan industri maritim.

Peran Data dan Dokumentasi dalam Preventive Maintenance

Salah satu aspek penting dalam preventive maintenance modern adalah dokumentasi. Setiap kegiatan perawatan harus dicatat secara sistematis, mulai dari jadwal, hasil inspeksi, hingga tindakan perbaikan yang dilakukan.

Dokumentasi ini tidak hanya berguna untuk evaluasi internal, tetapi juga menjadi bukti kepatuhan saat dilakukan survey klasifikasi atau inspeksi oleh otoritas pelabuhan. Dengan data yang akurat, pengambilan keputusan terkait perawatan kapal dapat dilakukan secara lebih tepat dan berbasis kondisi aktual.

Tantangan dalam Penerapan Preventive Maintenance

Meski manfaatnya jelas, penerapan preventive maintenance tidak lepas dari tantangan. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan waktu operasional, kurangnya sumber daya teknis, serta minimnya pemahaman kru terhadap pentingnya perawatan terencana.

Oleh karena itu, kolaborasi dengan pihak profesional yang memiliki kompetensi teknis dan pengalaman di bidang perawatan kapal menjadi solusi yang banyak diterapkan di industri saat ini.

Preventive maintenance kapal bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan investasi jangka panjang untuk keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan operasional. Dengan perawatan yang terencana dan konsisten, potensi kerusakan besar dapat ditekan, downtime dapat diminimalkan, dan kinerja kapal tetap optimal sepanjang masa operasinya.

Sebagai mitra di bidang layanan teknis kapal, PT Gastra Anugerah Sejahtera berkomitmen mendukung penerapan preventive maintenance yang andal dan sesuai standar industri, membantu pemilik kapal menjaga asetnya tetap aman, efisien, dan siap berlayar kapan pun dibutuhkan.

Fungsi rantai 1200x500

Sistem Jangkar dan Rantai: Komponen Kecil, Peran Besar di Operasional Kapal

Jika kita membahas mesin utama, sistem navigasi, dan peralatan keselamatan kapal, kebanyakan orang langsung memahami betapa pentingnya komponen tersebut dalam mendukung operasional pelayaran. Namun, ada satu sistem yang sering dianggap kecil, tetapi justru memegang peranan besar dalam keamanan dan operasional kapal: sistem jangkar dan rantai. Tanpa sistem ini, kapal tidak akan mampu berlabuh dengan aman, menjaga posisi dalam kondisi cuaca buruk, atau melakukan operasi tertentu dengan stabil.

Sistem jangkar bukan hanya sekadar besi besar yang dijatuhkan ke dasar laut. Di baliknya ada perhitungan teknis, standar internasional, dan proses maintenance yang ketat. Organisasi klasifikasi seperti ABS, DNV, dan Lloyd’s Register bahkan memiliki standar khusus untuk ukuran jangkar, panjang rantai, hingga kekuatan tarik (tensile strength) yang harus dipenuhi oleh setiap kapal.

Artikel ini membahas secara lengkap bagaimana sistem jangkar dan rantai bekerja, jenis-jenisnya, bagaimana standar internasional mengaturnya, serta pentingnya perawatan agar kapal tetap aman dan efisien.

Peran Vital Sistem Jangkar dalam Operasional Kapal

1. Menjaga Kapal Tetap Stabil saat Berlabuh

Fungsi utama jangkar tentu untuk menjaga kapal tetap berada pada posisinya saat berhenti. Baik itu ketika kapal berada di pelabuhan, menunggu antrean sandar, atau berhenti di area anchorage. Tanpa jangkar yang layak, kapal dapat bergeser oleh arus atau angin, dan berpotensi menyebabkan tabrakan atau kandas.

Menurut pedoman International Maritime Organization (IMO), sistem jangkar dirancang untuk menahan gaya dari angin hingga 48 knot pada kondisi normal. Ini menunjukkan betapa besar beban yang harus ditanggung oleh jangkar dan rantai saat operasional.

2. Alat Keselamatan dalam Kondisi Darurat

Jangkar juga digunakan saat mesin kapal mengalami gangguan. Dalam situasi darurat, kapal harus bisa mengantisipasi pergerakan liar akibat arus dan angin. Dengan menurunkan jangkar, awak kapal dapat memperlambat atau menghentikan kapal sebelum memasuki area berbahaya.

3. Mendukung Operasional Khusus

Beberapa operasi seperti pengambilan survei laut, pemadaman kebakaran dari laut, atau kegiatan maintenance kapal di offshore area membutuhkan posisi kapal yang stabil. Sistem jangkar memungkinkan kapal tetap berada di titik tertentu tanpa bergerak.

Jenis-Jenis Jangkar yang Banyak Digunakan

Secara umum, ada beberapa jenis jangkar utama yang digunakan di industri pelayaran:

1. Stockless Anchor (Jangkar Tanpa Palang)

Jenis paling umum di kapal niaga modern. Mudah dinaikkan dan diturunkan melalui hawse pipe. Desainnya yang ringkas membuatnya efisien untuk penggunaan harian.

2. Stocked Anchor

Memiliki palang horizontal sebagai penyeimbang. Dikenal memiliki daya cengkeram yang kuat di dasar berlumpur atau berpasir. Banyak digunakan pada kapal kuno atau kapal kecil tertentu.

3. High Holding Power (HHP) Anchor

Jenis jangkar yang memiliki daya cengkeram lebih besar dibanding ukuran standar. Banyak kapal tanker atau bulk carrier besar yang menggunakan tipe ini sesuai regulasi dari badan klasifikasi.

4. Super High Holding Power (SHHP) Anchor

Memiliki holding power hingga dua kali lebih kuat dari jangkar HHP. Cocok untuk kapal offshore dan kapal besar yang membutuhkan daya tahan maksimal.

Rantai Jangkar: Kecil di Mata, Besar Perannya

Material dan Kekuatan Rantai

Rantai jangkar dibuat dari baja berkekuatan tinggi (high tensile steel). Setiap “shackle” atau segmen rantai biasanya memiliki panjang 27,5 meter. Panjang total rantai ditentukan oleh regulasi klasifikasi, yang rata-rata mengharuskan kapal memiliki 8–13 shackle tergantung ukuran kapal.

Standar seperti ISO 1704 menetapkan dimensi, kelas kekuatan, dan toleransi untuk rantai jangkar. Kekuatan tarik rantai harus mampu menahan beban hingga puluhan ton — tergantung ukuran kapal dan kondisi laut.

Jenis Sambungan Rantai

Ada dua tipe utama:

  • Stud-link chain: memiliki palang di tengah tiap link untuk meningkatkan kekuatan; paling umum digunakan di kapal besar.
  • Studless chain: tanpa palang, digunakan pada beberapa operasi offshore.

Titik Kritis di Rantai Jangkar

Pada saat operasi, bagian rantai yang sering mengalami tekanan tertinggi adalah:

  • inboard length (bagian paling dekat windlass),
  • kurungan chain stopper,
  • hawse pipe area yang bergesekan saat rantai keluar-masuk.

Inilah sebabnya inspeksi perlu dilakukan rutin untuk menghindari putusnya rantai, yang bisa menyebabkan kapal drifting dan membahayakan keselamatan.

Cara Sistem Jangkar Bekerja di Lapangan

Ketika kapal menurunkan jangkar, prosesnya tidak sekadar menjatuhkan besi ke dasar laut. Kapal harus:

  1. Memilih lokasi berlabuh yang aman.
  2. Menyesuaikan heading kapal agar sejajar dengan arah angin dan arus.
  3. Menghitung panjang rantai yang dikeluarkan (scope).
    Umumnya 5–8 kali kedalaman laut.
  4. Mengatur kecepatan kapal agar rantai tidak menegang tiba-tiba.
  5. Mengecek holding status jangkar melalui bridge instrument.

Dalam cuaca buruk, jangkar bisa mengalami “dragging”. Oleh karena itu, perhitungan panjang rantai dan kondisi dasar laut sangat penting. Panduan dari OCIMF dan IMO bahkan memberikan skenario khusus untuk menghadapi kondisi angin ekstrem.

Pentingnya Perawatan dan Inspeksi Sistem Jangkar

Tidak banyak awak kapal yang menyadari bahwa sekitar 20–30% kasus drifting kapal di area berlabuh disebabkan oleh retakan atau korosi pada rantai jangkar.

Perawatan rutin meliputi:

  • pengecekan visual link rantai untuk retakan,
  • pelumasan windlass,
  • pengukuran keausan diameter rantai,
  • pengecatan ulang agar terlindungi dari korosi,
  • inspeksi brake dan chain stopper.

Organisasi klasifikasi internasional mewajibkan inspeksi berkala, terutama pada saat docking. Bila ditemukan link rantai yang menipis lebih dari 12% dari ukuran awal, link tersebut wajib diganti.

Meski terlihat sebagai komponen kecil, sistem jangkar dan rantai adalah bagian vital dalam menjaga stabilitas, keselamatan, dan efisiensi operasional kapal. Tanpa sistem yang andal, risiko kapal bergerak tak terkendali, dragging, hingga kecelakaan besar bisa meningkat. Oleh karena itu, memahami jenis jangkar, kekuatan rantai, standar klasifikasi, serta pentingnya maintenance adalah investasi penting bagi operator kapal.

PT Gastra Anugerah Sejahtera mendukung operasional kapal yang aman melalui layanan perawatan dan pengecekan sistem mekanikal kapal, termasuk ruang mesin dan komponen pendukung lainnya. Dengan perawatan optimal, kapal Anda siap bekerja pada performa terbaik di berbagai kondisi.